Senin, 27 Desember 2010

6 Perilaku Anak yang Harus Diperbaiki

elakukannya. Koreksi merupakan kekuatan di dalam pembentukan sifat dan jika Anda terus melakukan agar ia berperilaku baik, akhirnya anak akan menjadi biasa dengan segala sesuatu yang baik. Sebaliknya, jika dibiarkan, anak akan melawan, tak mau tahu aturan, dan lepas kontrol.

Cara Mencegah:Daripada berbicara sambil berteriak-teriak dari dalam kamar, sebaiknya datangi anak dan katakan padanya apa yang harus dilakukannya. Tatap mukanya, pandang matanya, saat berbicara padanya, dan tunggu sampai dia menjawab, “Ya.” Belai pundaknya, sebut namanya dengan lembut, matikan TV. Hal ini akan membuat perhatiannya penuh diberikan pada Anda.

Jika ia tetap tak peduli, tidak bergerak, beri hukuman padanya semisal tak boleh menonton film kartun favoritnya selama seminggu, tak boleh main sepeda, dan lainnya. Hal ini harus diterapkan pada anak agar kebiasaan buruknya itu tak terbawa hingga ia dewasa kelak.

4. TANPA ATURAN
Mengapa Harus Dicegah: Pastinya menyenangkan jika anak dapat membeli sendiri snack atau DVD kesukaannya. Tapi cobalah tetap mengontrol kegiatannya supaya tetap sesuai dengan aturan yang berlaku dalam keluarga. Mungkin terdengar hebat jika anak usia 2 tahun sudah bisa dan terbiasa mengambil makanan dari lemari sendiri tanpa meminta izin pada Anda. Tapi tunggu sampai dia berumur 8 tahun, saat ia pergi ke rumah teman tetangga, mengambil semaunya tanpa meminta. Nah, memalukan, bukan?
Cara Mencegah: Buat aturan-aturan di rumah dan bicarakan hal ini sesering mungkin dengan anak-anak. Misalnya, jika ia menginginkan cokelat, anak harus minta izin terlebih dahulu dan itu adalah peraturan yang berlaku di rumah Anda. Atau jika anak langsung menyalakan TV tanpa izin Anda, minta agar ia mematikannya dan setelah itu terangkan sambil mengajarkan padanya bahwa dia harus minta izin Anda terlebih dahulu jika ingin menonton TV.

Membuat dan menjalankan aturan akan menolong anak berdisplin, menghargai orang lain, dan tak cuma memikirkan kesenangan diri sendiri.

5. ATURAN MINIM
Mengapa Harus Dicegah: Mungkin tidak pernah terpikir oleh Anda ketika anak masih kecil ia berteriak-teriak atau membiarkan ingus keluar dari hidung tanpa mengajarinya untuk menyekanya. Akhirnya, perilaku itu terbawa hingga ia besar dan sudah sulit diperbaiki.

Pada umumnya, perilaku yang tidak baik sering dimulai ketika anak berada dalam usia balita. Beberapa orang tua berpendapat, “Toh, nanti juga hilang sendiri,” Padahal, jika Anda tidak mengajarkannya sejak dini, bisa menjadi masalah besar di masa datang.

Cara Mencegah: Biasakan anak mengerti dan menaati perilaku serta tata terib dengan baik. Katakan sejak sedini mungkin, ada aturan untuk berbuat yang lebih baik di depan umum. Seperti misalnya jika anak pilek, beri dia tisu dan ajarkan cara membersihkan hidungnya jika ingus keluar, lalu buang tisu di tempat sampah. Jika ia mememerlukan sesuatu, biasakan untuk mendekat dan berkata dengan sopan, bukan berteraik-teriak memanggil-manggil.

Jika anak tetap melakukan apa yang telah diajarkan, Anda dapat menolak keinginannya dengan cara pergi sambil mengatakan bahwa Anda tidak mau menolongnya jika dia tetap berlaku yang tidak semestinya. “Kalau kamu ngomongnya sopan, Mama akan mendengarkannya.” Lakukan terus dengan konsisten.

6. MEMBESAR-BESARKAN KENYATAAN ALIAS BOHONG
Mengapa Harus Dicegah: Jangan menganggap seolah-olah bukan suatu hal yang penting jika anak Anda mengatakan dia telah merapikan tempat tidurnya dengan susah payah padahal hal itu sama sekali tak benar. Atau dia bercerita kepada temannya bahwa liburan kemarin dia pergi ke Disney World padahal sebetulnya dia belum pernah ke sana. Bahkan naik pesawat terbang pun, belum pernah.

Jika hal ini terjadi, sangat penting untuk membicarakannya dengan anak dan jangan pernah dibiarkan! Soalnya, berbohong dapat menjadi suatu hal yang otomatis. Kalau anak belajar dan merasa bahwa dengan membual merupakan cara yang mudah agar dia dipandang lebih hebat oleh temannya atau mencegah terjadinya masalah yang lebih besar yang telah diperbuatnya, segera perbaiki tingkah laku anak!

Cara Mencegah: Jika Anda mendapati anak berbohong, ajak dia duduk bersama dan langsung bicarakan mengenai masalahnya. Misalnya, Anda mengatakan, “Memang sangat menyenangkan, ya, kalau kita bisa pergi ke Disney World. Mudah-mudahan suatu hari kita bisa pergi ke sana. Tapi kamu enggak boleh berbohong bilang pada temanmu sudah pergi ke sana. Sebab, kalau kamu suka berbohong, nanti jika kamu benar-benar melakukan sesuatu yang benar, tidak akan ada lagi yang percaya karena tahu kamu sudah berbohong. Nah, akhirnya kamu enggak punya teman. Enggak enak, kan?”

Atau jika anak berkata sudah menggosok giginya, periksa giginya. Jika ternyata belum, suruh dia segera menggosok gigi dengan bersih. Kontrol terus hal-hal seperti ini dan berikan mereka pengertian. Jangan pernah bosan melakukannya! Anda ingin si kecil berperilaku baik di saat ia besar nanti, kan? (Sumber : Ir. Hendry Risjawan, MTC, CH, CHt, CHI, EITC)

Sumber: www.ilmupsikologi.com

Riset Terbaru: Olah Raga Bukan Untuk Badan, Tapi Otak

January 20th, 2010 by yahdillah

Olahraga untuk otak memang populer akhir-akhir ini, namun tahukah Anda bahwa olahraga yang kita lakukan tidak hanya baik untuk jantung dan berat badan tapi juga efektif untuk mengasah otak.

“Olahraga sebenarnya lebih berguna untuk otak, bukan tubuh, karena olahraga sangat memengaruhi mood, vitalitas, konsentrasi dan perasaan positif seseorang,” kata John J.Ratey, MD, penulis buku A User’s Guide to the Brain.

Stephen C.Putnam, MEd, penulis buku Nature’s Ritalin for the Marathon Mind, juga menyatakan manfaat olahraga untuk anak-anak dengan cedera otak, seperti anak hiperaktif. Dengan kegiatan olahraga, kelainan perilaku anak bisa dikurangi dan fokus mereka ditingkatkan.

Dalam penelitian yang dilakukan Putnam diketahui anak yang melakukan olahraga 15-45 menit sebelum masuk kelas cenderung memiliki sikap yang lebih baik dan mudah berkonsentrasi di kelas. Selain membuat tubuh terasa bugar, olahraga juga akan membuat otak lebih segar.

Para ahli menjelaskan olahraga memengaruhi banyak bagian dalam sistem saraf dan memicu dilepaskannya hormon-hormon yang menimbulkan perasaan senang, gembira dan tenang, seperti serotonin dan dopamin. Itu sebabnya, orang yang rajin berolahraga lebih jarang terkena depresi.

“Saat Anda berolahraga, Anda akan berpikir lebih jernih, lebih bugar dan lebih positif. Ini murni hal ilimiah karena olahraga akan merangsang sistem saraf dan berfungsi dalam level yang maksimal,” kata Christin Anderson, MS, koordinator kebugaran dari University of San Fransisco.

Sumber: www.ilmupsikologi.com

Tidur Dapat Kurangi Depresi

Jangan biasakan begadang, kalau tidak ada aktivitas penting dan genting….anda bisa jadi mudah pening. Terutama bagi remaja yang biasa tidur lewat tengah malam akan lebih mudah terkena depresi, dibanding yang tidur lebih awal

Penelitian terbaru yang dilakukan di New York menunjukkan bahwa tidur lebih awal akan melindungi para remaja dari depresi dan pemikiran ingin bunuh diri.

Dari 15.500 remaja berusia 12 sampai 18 tahun yang dijadikan bahan studi, mereka yang tidur sebelum tengah malam, memiliki 24 % kecenderungan untuk mengalami depresi dibandingkan mereka yang tidur sebelum jam 22.00.

Dan mereka yang tidur kurang dari lima jam dalam semalam memiliki 71 persen kemungkinan depresi, dibandingkan mereka yang tidur selama delapan jam, demikian laporan Jurnal Tidur (Sleep).

Di Inggris diperkirakan sekitar 80 ribu anak-anak dan remaja mengalami depresi.

Para peneliti dari Pusat Medis Universitas Kolumbia di New York mengumpulkan daya dari 15.500 remaja di tahun 1990-an.

Resiko depresi

Di antara mereka yang memiliki resiko depresi tinggi, mereka yang diperintahkan tidur oleh orang tua mereka atau yang tidur setelah tengah malam, 20% lebih tinggi kemungkinan memikirkan tindakan bunuh diri dibandingkan mereka yang tidur sebelum jam 2200.

Mereka yang tidur kurang dari lima jam memiliki 48% lebih tinggi untuk bunuh diri dibandingkan mereka yang tidur selama delapan jam.

Para remaja yang melaporkan mereka “cukup tidur” 65% lebih kecil kemungkinan mengalami depresi.

Depresi dan pemikiran ingin bunuh diri lebih banyak terjadi pada anak-anak perempuan, remaja yang tua, atau mereka yang memiliki persepsi diri yang rendah.

Kebanyakan orang tua dalam studi itu menetapkan batas waktu tidur sekitar jam 22.00 atau lebih awal.

Secara rata-rata, para remaja ini tidur tujuh jam 53 menit setiap malam –kurang dari sembilan jam dari rekomendasi untuk anak-anak seumur mereka.

Sumber: www.ilmupsikologi.com

Cinta Ibu Menentukan Watak Anak

Kompas.com - Di usia balita, bukan hanya kebutuhan gizi saja yang wajib menjadi perhatian para orangtua. Inilah saat yang paling tepat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang karena dampaknya akan terus terbawa hingga dewasa.

Meski bayi belum dapat membalas ucapan ayah ibunya, ia dapat menangkap rasa cinta yang disampaikan melalui tatapan, usapan, dan pelukan. Dan, ekspresi cinta yang ditangkapnya akan menjadi modal baginya untuk mengembangkan kekuatan emosional yang kelak membantunya mengatasi stres.

Karena itulah, para pakar menilai ikatan batin antara ibu dan anak menjadi kunci yang menentukan apakah seseorang akan tahan uji melewati berbagai fase kehidupan. Namun, sikap kasih sayang yang ditunjukkan secara berlebihan juga tidak disarankan karena bisa membuat anak merasa terganggu dan malu, terutama ketika anak mulai beranjak besar.

“Kasih sayang yang dicurahkan orangtua kepada anak bukan hanya mengurangi stres, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan sosialnya yang kelak membantunya di usia dewasa,” kata Dr Joanna Maselko.

Dalam risetnya, Maselko dan timnya mengamati 500 orang di Amerika sejak mereka bayi hingga dewasa. Ketika para responden itu masih bayi, peneliti menilai respons ibu mereka terhadap emosi dan kebutuhan anak. Misalnya menilai apakah terdapat interaksi yang hangat antara keduanya.

Tiga puluh tahun kemudian, para peneliti meminta para responden yang kini sudah dewasa itu untuk mengikuti survei mengenai emosi dan perasaan. Ternyata, responden yang dilimpahi kasih sayang oleh ibunya mampu mengatasi tekanan hidup secara lebih baik. Mereka juga mampu mengatasi kecemasan dan emosi negatif.

Dr Terri Apter, psikolog dari Cambridge yang sering melakukan studi mengenai hubungan ibu dan anak, mengatakan, orangtua harus bersikap responsif terhadap kebutuhan anak. “Setiap bayi lahir tanpa tahu bagaimana mengatur emosi mereka. Mereka mempelajari emosi dari kesusahan dan juga ketenangan yang didapatnya,” katanya.

Ibu yang responsif, lanjut Terri, paham apakah perhatian yang diberikannya sudah cukup atau kurang. “Ibu yang responsif bukan cuma tahu kapan harus memberi perhatian, tetapi juga kapan harus menjaga jarak,” ujarnya. (kompas.com)

Sumber: www.ilmupsikologi.com

Minggu, 26 Desember 2010

Riset : Berjalan kaki dapat meningkatkan kecerdasan?

Penelitian unik dilakukan oleh ilmuwan Universitas Illinois tentang variabel yang berpengaruhn terhadap kecerdasan salah satunya adalah dengan berjalan di udara terbuka. Anda bisa menghabiskan waktu di udara terbuka dengan jogging, berjalan-jalan di taman bersama si kecil atau binatang peliharaan.

Seperti yang dikutip dari geniusbeauty, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli bedah saraf dari University of Illinois yang menemukan bahwa ada hubungan langsung antara otak dengan berjalan.

Menurut direktur riset tersebut, Profesor Art Kramer, tingkat kecerdasan orang akan meningkat jika dia berjalan setidaknya tiga kali seminggu selama 40 menit di udara terbuka. Seperti yang dilaporkan oleh dailymail, para ilmuwan percaya bahwa dengan berjalan akan mengaktifkan seluruh kegiatan dan struktur otak karena adanya rangsangan eksternal.

Sumber: www.ilmupsikologi.com

Anak Pemalu

Kategori Anak
Oleh : Martina Rini S. Tasmin, SPsi
Jakarta, 20 Maret 2002


Ibu Heny sangat terpesona dengan Dendi, anak tetangganya yang baru berumur 3 tahun. Dendi adalah seorang anak yang penuh percaya diri, riang dan lincah, tidak pernah takut bertanya ini itu dan dengan mantap menyapa orang yang baru dikenalnya. Kondisi tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan Adie (3 tahun), anaknya Ibu Heny. Setiap kali bertemu orang baru Adie selalu ingin terus-menerus berada dekat orangtuanya, menyembunyikan diri di balik rok ibunya, tidak mau diajak bicara dan tidak mau melakukan kontak mata. Situasi ini sangat membingungkan ibu Heny dan tidak jarang ia menjadi malu dan sedikit "jengkel" dengan perilaku anaknya.

Apakah anda mengalami hal yang sama dengan dialami oleh ibu Heny? Jika ya, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak sehingga sifat pemalu pada anak lambat laun menjadi hilang? Lalu apa dampaknya jika anak tidak kunjung memperoleh rasa percaya diri? Inilah yang akan coba dibahas dalam artikel ini. Artikel ini akan terbagi dalam beberapa bagian yaitu:

*
Apakah Pemalu itu
*
Dampak apakah yang akan mungkin timbul akibat sifat pemalu
*
Bagaimanakah sebaiknya orangtua menyikapi anak pemalu


Apakah Pemalu Itu

Para ahli nampaknya memiliki beberapa pandangan yang berbeda tentang perilaku pemalu (shyness). Ada ahli yang mengatakan bahwa pemalu adalah suatu sifat bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri

Kecenderungan menarik diri ini sudah dimulai sejak masa kanak-kanak, bahkan sejak bayi. Kita dapat melihat ada bayi-bayi yang menangis jika didekati orang atau tidak mau untuk dipegang. Sebaliknya ada juga bayi-bayi yang tidak pemalu, mereka membiarkan diri mereka berada dekat orang lain, dan tidak menolak digendong oleh orang yang tidak dikenal.

Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:

1.
menghindari kontak mata
2.
tidak mau melakukan apa-apa
3.
terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya)
4.
tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti "ya", "tidak", "tidak tahu", "halo"
5.
tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas
6.
tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal
7.
mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu
8.
menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah)
9.
mengalami psikosomatis
10.
merasa tidak ada yang menyukainya

Swallow juga menyatakan adanya beberapa situasi dimana seseorang (pemalu maupun tidak) akan mengalami rasa malu yang wajar dan lebih dapat diterima, yaitu:

1.
bertemu dengan orang yang baru dikenal;
2.
tampil di depan orang banyak;
3.
situasi baru (misalnya sekolah baru, pindah rumah baru).
Dampak Sifat Pemalu

Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang. Misalnya, ketika berada di rumah teman/tetangga, anak ingin buang air kecil tetapi malu minta ijin ke toilet, sehingga menahan keinginan buang air yang akhirnya berakibat sianak malah mengompol.

Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.

Apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?

Tanpa mengabaikan pendapat bahwa pemalu merupakan bawaan/karakter terberi atau bukan, satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa lingkungan memegang peranan penting terhadap sifat pemalu ini. Anak akan semakin pemalu ataukah justru dapat mengatasi sifat pemalu ini, tergantung dari apakah lingkungannya (baca: orangtua) terus-terusan melindungi anak pemalu atau mendorongnya untuk mau menghadapi dunia luar sehingga anak menjadi lebih percaya diri.

Idealnya orangtua menerima sifat pemalu anak apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Namun di lain pihak orangtua diharapkan untuk memampukan anak dalam mengatasi rasa malu sehingga anak merasa kompeten, percaya diri, berkembang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya dan megurangi masalah yang mungkin timbul sebagai akibat sifat pemalu. Seorang anak yang pemalu, tidak terus-terusan merasa malu dalam setiap situasi hidupnya. Ada situasi-situasi tertentu yang dapat membuatnya merasa percaya diri. Biasanya situasi tersebut adalah ketika anak sedang bersama orangtua ataupun anggota keluarga yang ditemuinya setiap hari (tanpa kehadiran orang baru/asing) atau situasi yang stabil/rutin dilalui anak. Kalau orangtua dari awal sudah mengetahui anaknya pemalu dan ingin mendorongnya agar mampu mengatasi rasa malu tersebut, maka sebaiknya dari awal itulah usaha orangtua sudah dilakukan. Usaha orangtua sebaiknya merupakan usaha yang bertahap, hari demi hari sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian menampakkan hasilnya, seperti kata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Orangtua sebaiknya mendorong anak untuk berani keluar dan menghadapi dunia luar dengan percaya diri. Mendorong seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba (drastis). Misalnya ketika orangtua sudah mencapai titik jenuh melindungi anaknya terus-menerus dan bingung melihat anaknya sampai usia sekian tahun masih tidak mau bergaul dengan anak tetangga, lalu dengan tiba-tiba melepaskan si anak dan mengatakan "ayo dong Adie, sekarang kamu sudah besar, kamu sekarang sudah harus berani, ayo sana bermain play station ramai-ramai dengan Deni di rumahnya". Perubahan sikap orangtua yang seperti ini bisa menjadi tekanan tersendiri buat si anak, karena yang biasanya aman dalam lindungan orangtua, tiba-tiba orangtua berubah melepaskan dan "tidak mau melindungi". Mendorong anak (encourage) tidak sama dengan memaksa (push), usaha yang tiba-tiba bukanlah mendorong, tetapi memaksa. Perasaan terpaksa akan membuat keadaan bertambah buruk karena anak ditempatkan pada keadaaan yang melebihi batas toleransinya, sehingga anak bisa jadi malah semakin menarik diri.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak mengatasi rasa malu, yaitu:

1.
Orangtua sebaiknya tidak mengolok-olok sifat pemalu anak ataupun memperbincangkan sifat pemalunya di depan anak tersebut. Contohnya dengan mengatakan "kamu sih pemalu", "iya loh Bu Joko, anak saya ini pemalu sekali, sampai repot saya kadang-kadang", dll. Dengan mengatakan hal-hal ini anak dapat merasa tidak diterima sebagaimana dia adanya.
2.
Mengetahui kesukaan dan potensi anak, lalu mendorongnya untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka main mobil-mobilan, ketika berada di toko ia menginginkan mobil berwarna merah, sementara yang tersedia berwarna biru, maka anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia menginginkan mobil yang berwarna biru.
3.
Sebaiknya orangtua secara rutin mengajak anak untuk berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
4.
Lakukan role-playing bersama anak. Misalnya seperti pada contoh no. 2 diatas, anak belum tentu berani untuk berbicara pada pelayan toko sekalipun didampingi, maka ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada di toko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.
5.
Jadilah contoh buat anak, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.

Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orangtua tetap mendampingi dan tidak langsung melepaskan anak seorang diri. Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan toko, orangtua berada di samping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu (anak main bersama temannya tapi dia tahu orangtuanya ada dan tidak meninggalkan seorang diri). Anak bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang.

Sumber: www.e-psikologi.com

Suap dan Hadiah Dalam Pengasuhan

Kategori Anak
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 02 Juni 2010

Mengingat ujian sudah dekat, Bu Ani mulai gencar menyuruh anaknya belajar. Pasalnya, waktu tray-out kemarin, anaknya kebetulan terkena remedial oleh gurunya. Si anak yang sedang asyik-asyiknya menonton acara televisi kesayangan, agak menolak perintah ibunya. Untuk menghindari ketegangan, sang ibu memberikan upeti yang masih dijanjikan agar anaknya cepat menuju ruang belajar. Pertanyaannya, apakah perilaku Bu Ani itu tergolong penyuapan (bribery) atau penghargaan atas usaha anaknya yang mau beranjak meninggalkan televisi (reward)?

Menyuap Dalam Pengasuhan
Praktek suap dalam pengasuhan perlu dibedakan dengan praktek yang ada dalam birokrasi. Suap dalam birokrasi diartikan sebagai perilaku yang mengiming-imingi atau menyepakati imbalan, baik di depan atau di belakang, agar terjadi aksi yang unfair (merugikan orang lain) atau unlawful (melanggar hukum).Misalnya, kita sedang dalam proses mengintip pekerjaan tender dari kantor departemen anu. Agar kita menang, kita membuat deal yang terkait dengan iming-iming imbalan itu agar terjadi proses yang tidak fair atau kalau perlu melanggar. Banyak proyek pemerintah yang anggarannya gila-gilaan, tetapi mutunya edan-edanan. Ini terjadi karena praktek suap merajalela.

Sedangkan suap dalam ruang lingkup pengasuhan, menerangkan tindakan orangtua yang memberi / menjanjikan imbalan untuk hal-hal yang ditolak oleh anak, yang mestinya itu sudah merupakan tanggung jawab anak, atau untuk hal-hal yang memang menjadi kewajiban orangtua melatih si anak, seperti belajar, mandi, sabar dalam meminta, dan seterusnya.

Hampir semua orangtua pernah melakukan suap kepada anaknya. Bedanya mungkin ada yang mempatenkan pola suap itu dan ada yang menjadikannya sebagai strategi temporer. Ada yang tingkatannya sudah berlebihan, tapi ada yang masih bisa dibilang wajar. Ada yang mau memperbaiki, tapi ada yang membiarkan.

Potensi Bahaya
Meski dipahami tidak sekotor seperti praktek suap dalam birokrasi, tetapi bila kebablasan atau tidak diiringi dengan penjelasan yang memahamkan anak, bisa-bisa praktek suap ini dapat menanamkan mentalitas yang kurang mendukung kemajuan anak di kemudian hari.

Suap sangat kurang mendidik anak untuk mengembangkan kendali diri (internal self control) yang menjadi landasan disiplin. Padahal disiplin itu sangat dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Disiplin dibutuhkan untuk menanamkan perilaku positif, dan melatih manajemen hidup. Anak yang tahu teori disiplin, belum tentu bisa menjalankan, jika tidak disertai latihan sejak kecil.

Suap juga dapat membuat sensitivitas anak terhadap tanggung jawabnya menjadi kurang tajam. Anak akan cenderung mengandalkan suap atau iming-iming imbalan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya. Ironisnya, pada beberapa kasus anak-anak yang menjadi sasaran program bantuan bencana pun sudah bisa memilih dan menolak pihak yang tawarannya kurang menarik. Jadi program-program bantuan masyarakat pun sampai ada yang pakai strategi suap. Sebabnya, jika tidak pakai amplop, hadiah, dsb - tidak ada yang mau ikut. Dikasih duit untuk mengikuti pengajian dan program. Dikasih amplop untuk mengikuti training. Bahkan untuk membersihkan lingkungan sendiri pun diiming-imingi dengan uang. Saat itu, hampir semua orang melihatnya sebagai kebaikan yang luar biasa. Tapi, gara-gara kebablasan, kebaikan itu mulai menjadi petaka.

Bahkan jika suap ini sudah membuat anak terbiasa kecanduan, anak akan menggunakan kelemahannya atau menggunakan inisiatif negatifnya sebagai kekuatan untuk tawar-menawar dengan orangtua. Misalnya, anak akan menangis berlebihan jika tuntutannya tidak dipenuhi untuk mendapatkan suap dari orangtuanya.

Secara sosial, suap juga dapat menumpulkan kecerdasan sosial. Kalau dilogikakan, anak akan tidak tegerak untuk menolong orang lain atau untuk melakukan kebaikan sosial, termasuk untuk dirinya sendiri dan keluarganya ketika tidak melihat imbalan yang akan didapatkan. Bahkan, kalau membaca hasil kajian lembaga-lembaga internasional mengenai suap dan korupsi dalam sebuah bangsa, suap juga membahayakan kepentingan nasional. Terungkap dalam berbagai studi bahwa budaya menduduki ranking atas dalam menggerakkan perilaku. Selebihnya, sistem yang bobrok dan penegakan hukum yang lemah.

Budaya dalam hal ini adalah perilaku kolektif yang digerakkan oleh sekian elemen (kebiasaan, tradisi, nilai, contoh, dst) yang sudah masuk ke dalam sistem syaraf masing-masing individu sehingga untuk mengubahnya tidak mudah. Ada kemungkinan budaya itu terbentuk dari kecil atau dari proses waktu yang panjang.

Bagaimana Dengan Reward?
Reward dalam pengasuhan pengertiannya adalah memberi imbalan atas prestasi, pencapaian, atau perjuangan anak dalam mencapai sesuatu. Ada learning process di dalamnya. Misalnya, kita memberikan hadiah sepeda setelah dia bisa menguasai gerakan tertentu atau mendapatkan nilai / peringkat akademik tertentu.

Oleh pengalaman dunia pendidikan, reward ini dinilai punya pengaruh positif bagi anak, antara lain:
1. Reward akan memotivasi anak untuk berjuang atau mencapai. Motivasi itu bersumber dari dorongan atau rangsangan kita, lalu pengarahan kita ketika ada kesalahan atau penyimpangan, dan penghargaan kita atas pencapaian. Banyak orangtua yang kurang memberi dorongan, tetapi banyak menyalahkan. Sudah begitu, sikapnya juga kurang apresiatif terhadap prestasi anak.
2. Reward akan membuat anak merasa dihargai sehingga ini menjadi modal yang penting untuk membangun self-esteem. Untuk anak, faktor yang paling banyak peranannya dalam membangun harga diri adalah faktor eksternal, orangtua dan lingkungan. Harga diri yang positif membuat anak lebih optimistis, misalnya tidak pasrah jika nilainya jelek.
3. Reward dapat memantapkan kepercayaan diri (pede). Anak membangun pede dari bukti dan pengakuan. Jika anak melihat ternyata dia mampu melakukan sesuatu dengan bukti yang nyata (hasil atau kompetensi), ditambah lagi dengan pengakuan orangtuanya, maka pede-nya akan membaik.

Dalam banyak hal, intinya, memberi reward itu jauh lebih edukatif. Walaupun rewarding ini tidak selalu secara sempurna bisa kita jalankan, tetapi hal ini harus dijadikan acuan.

Butuh Alat Bantu
Supaya kita mudah memberikan reward, memang butuh alat bantu. Ketiadaan atau kekurangan alat bantu, dapat memudahkan kita terjebak melakukan bribing untuk kepentingan sesaat atau melakukan demotivating karena reaksi sesaat. Beberapa alat bantu yang penting itu adalah:

* Ada disiplin tertentu yang kita tegakkan secara konsisten sejak kecil. Akan lebih bagus disiplin itu ditegakkan berdasarkan kesepakatan dan perkembangan anak, dijalankan dengan cara friendly, dan konsisten mengawalnya. Disiplin akan memudahkan kita memberi pengarahan dan memberi reward karena dasarnya jelas.
* Ada standar prestasi / pencapaian tertentu berdasarkan kemampuan dan keadaannya, misalnya bisa menguasai kompetensi tertentu, nilai tertentu, kebisaan tertentu, dan lain-lain. Sebaiknya, standar prestasi itu kita buat berdasarkan kesepakatan yang menantang (challenging), bukan yang menekan (pressing). Pencapaian standar menjadi alasan yang pas untuk memberi reward
* Ada harapan tertentu. Tidak semua perilaku anak itu bisa dimasukkan ke dalam wilayah disiplin dan standar. Memang harus ada yang di luar sistem. Misalnya saja menangis, konflik, membanting barang, atau hal-hal yang serupa. Meski sulit dihindari, tetapi ada harapan dari orangtua kepada anaknya. Jika si anak bisa memenuhi harapan itu, walaupun tidak sempurna, memberi reward menjadi langkah yang pas.


Bahkan dengan alat bantu di atas dapat juga menghindarkan kita dari praktek memuji-muji anak tanpa alasan yang tepat. Memuji tanpa alasan dan berlebihan sangat berpotensi mendorong anak menciptakan konsep diri yang salah.Teorinya, anak yang sering diserang oleh orang dewasa di sekitarnya akan membangun konsep diri yang lemah (The Poor Me), minder, takut, dst. Tapi, jika kebanyakan dipuji yang hanya untuk menyenangkan hati tidak berarti lantas bagus. Dia akan membangun konsep diri yang super (The Super Me), sombong, narsis, berpikir harus menundukkan orang lain, menutut pujian, dst.

Supaya terhindar, kita perlu membekali dia membangun konsep diri yang aktual (The Actual Me). Salah satu cara yang penting adalah dengan menciptakan dan menjalankan alat bantu di atas. Untuk kepentingan yang lebih besar, melatih anak supaya menjadi actualized itu akan membekali paradigma mental yang lebih riil dalam menghadapi hidup.

Berbagai Bentuk Reward
Reward itu tidak selamanya harus materi. Reward dapat berupa materi (tangible) dan bukan materi (intangible), misalnya pujian, dukungan, ciuman kasih sayang, penghormatan, perlakuan, dan lain-lain. Artinya, tidak semua reward mengharuskan kita merogoh saku. Dengan kata lain, semua orangtua punya kesempatan yang sama untuk me-reward anaknya. Hanya memang namanya juga anak-anak, secara umum, reward yang tangible atau yang berbentuk materi itu biasanya punya nilai yang lebih sensasional dan itu biasanya yang lebih dulu diminta.

Meski demikian, kalau keseringan, daya kejutnya bisa berkurang, selain juga kurang bagus. Jalan tengah yang bisa ditempuh orangtua adalah menyesuaikan, memproporsionalkan dengan situasi kondisi, anak dan segala sesuatunya. Tidak melulu materi atau tidak melulu hanya omongan, tidak perlu seragam dengan yang lain, dsb.

Ada banyak teori yang bisa kita jadikan acuan untuk memvariatifkan atau mengkomprehensifkan reward, misalnya teori ERG yang membagi kebutuhan manusia menjadi tiga, seperti di bawah ini:

E = Existence, kebutuhan fisiologis dasar, misalnya makanan atau baju
R = Relatedness, kebutuhan emosional sosial, misalnya mainan baru yang membuat dia punya gairah baru dalam berteman, perlakuan yang lebih istimewa, penghargaan, kunjungan ke rumah nenek di kampung, dan lain-lain
G = Growth, kebutuhan aktualisasi diri, perkembangan, atau kemajuan, misalnya membelikan buku, mainan yang edukatif, atau fasilitas kemajuan tertentu.

Selain itu, bentuk reward-nya sendiri juga perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan perkembangan, atau juga sebab-sebabnya. Ini supaya nilai gunanya tepat dan efektif. Reward yang terlalu besar sama jeleknya dengan reward yang terlalu kecil. Membelikan hape atau laptop untuk anak yang belum butuh, bisa salah atau kurang berguna. Akan lebih sempurna lagi jika reward itu kita desain se-personal mungkin, spesial, dan unik. Kalau terlalu umum atau biasa-biasa, padahal itu untuk sebuah prestasi yang luar biasa, bisa-bisa kita malah dilecehkan, dengan istilah semacam pelit, kurang perhatian, dsb.

Yang paling penting untuk kepentingan pendidikan adalah, reward itu memang sengaja kita rancang untuk menantang dia meningkatkan pencapaian, prestasi, atau perjuangan. Jangan sampai gara-gara hadiah itu lantas membuat dia berubah menjadi lebih buruk atau tidak tertantang lagi. Hadiah membawa musibah.

Sumber: www.e-psikologi.com