“MANIS....” ucap Ifana Nafisa Saraswati (6) saat lidahnya mencecap minuman yang disodorkan guru pembimbingnya, Eka. Meski ucapan kata ‘manis’ dari mulutnya tidak terdengar jelas, namun dari gerak bibir Ifana siapapun yang melihat, gadis kecil tersebut memang mengatakan kata ‘manis’. Ifana merupakan satu dari 94 siswa dari Sekolah Luar Biasa Bagian B (tunarungu) Karnnamanohara Yogyakarta yang mengikuti outbond di Desa Wisata Sambi, Pakembinangun Sleman Yogyakarta, belum lama ini. “Kegiatan ini untuk melatih indera perasa siswa agar mereka bisa membedakan rasa makanan,” kata Eka, pembimbing yang juga tunarungu. Rohadi (39) asal Solo, ayah Ifana mengatakan setelah 3 tahun mengikuti pendidikan di Karnnamanohara anaknya mengalami kemajuan dalam berbagai segi. Mulai dari aktivitas menulis, membaca, pengucapan kata serta kemampuan berinteraksi dengan orang lain meningkat pesat. Termasuk rasa ingin tahu yang besar. Hal senada diungkapkan Sugeng Budi Setyo Purnomo yang sejak tahun 2002 menjadi Ketua Komite Sekolah SLB Karnnamanohara. Anaknya, Nana (9) berusia 2 tahun 6 bulan saat ia masukkan ke SLB Karnnamanohara. “Sekarang anak saya bisa berkonsentrasi, lancar menulis, bahkan dengan rasa ingin tahunya yang besar ia hobi main komputer,” kata pegawai di Dinkes Kabupaten Sleman. Sugeng Budi yakin lewat metode gerak bibir yang dikembangkan SLB Karnnamanohara seorang tunarungu tidak terbatas bisa berkomunikasi dengan sesama tunarungu saja tapi juga dengan masyarakat umum lainnya. Sehingga ia yakin anaknya kelak dapat hidup mandiri. Kepala Sekolah SLB Karnnamanohara Tantan Rusandi SPd mengungkapkan, meski belum lama berdiri, namun minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SLB Karnnamanohara sangat besar. Bahkan orangtua dari luar kota seperti Kalimantan, Bali dan lainnya rela pindah ke Yogyakarta agar anak mereka bisa belajar di SLB yang siswanya khusus tunarungu. Karena keterbatasan infrastruktur sekolah, beberapa calon siswa terpaksa masuk daftar tunggu. “Di SLB Karnnamanohara, sistem mengajarnya bukan dengan bahasa isyarat namun dengan cara lisan atau oral communication lewat gerak bibir, idealnya anak tunarungu masuk SLB pada usia 2 tahun” kata Tantan. Dukungan dari Dinas Pendidikan Propinsi DIY diakui Tantan sangat besar terutama dalam bentuk bantuan infrastruktur maupun beasiswa kepada siswa. Ke depan, ia berharap peran serta dari Dinas Pendidikan Propinsi DIY masih terus berlanjut. Tantan menambahkan, outbond sangat berguna bagi siswa dan bertujuan untuk melatih kemandirian, melatih ketangkasan, melatih ketrampilan, menambah wawasan dan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan untuk bekerja sama dan bersosialisasi dengan teman dan alam sekitar dan meningkatkan kemampuan hidup anak di lingkungan nyata. Pengawas Sekolah Luar Biasa Dinas Pendidikan Propinsi DIY Al Mustofa MA mengatakan, saat ini dari sekitar 60 SLB yang ada di wilayah DIY memang baru SLB B Karnnamanohara yang secara khusus hanya menampung siswa yang berkebutuhan khusus tunarungu. SLB yang lain siswanya masih bercampur dengan siswa yang berkebutuhan khusus lain. (Agung P)-m
sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=156636&actmenu=45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar