Senin, 10 Mei 2010

Upaya Dan Rejeki

Upayaku maksimal..

Rejekiku….

Saya orang yang senang sekali menggunakan akal dalam menganalisa masalah… (duuh sombong sekali kedengarannya ya??? Astaghfirullah) Untuk melakukan sesuatu, saya senang sekali berhitung (hmm seperti pedagang???)

jika saya belajar bab 1, maka soal ulangan yang mengacu pada bab 1 akan dapat kukerjakan.

Jika saya bekerja 10 jam sehari, maka saya akan mendapatkan uang minimal Rp…

Jika saya menjaga kesehatan dengan baik, saya tak akan sakit..


Aduh…. apa saya kelihatannya demikian pintar???? Atau malah sok tahu??? (sepertinya yang terakhir yang paling benar ya?) karena selalu bermain dengan perhitungan, unsur probabilitas diperkecil..Ya Allah betapa sombongnya aku…

Sampailah saya disebuah titik kejadian. Mengingat masa depan putri cantikku, Aini, saya menghiba.., memohon pada institusi pendidikan, untuk memahami Aini. Meminta para Pendidik, Ahli Pedagog, Kementrian Pendidikan, Aparat pemerintah dan orang-orang hebat lainnya, untuk melihat Anak Berkebutuhan Khusus sebagai sebuah individu yang utuh. Yang tidak dipandang sebagai objek pendidikan. Meminta agar dihargai upaya yang dilakukan para ABK ini untuk meraih kesejajaran dengan anak normal. (walaupun hasil nyatanya, tak dipungkiri lagi sangat jauh dari standart normal). Berhari-hari saya menyertakan harapan ini dalam doa-doaku. Menunggu keajaiban terbukanya hati para bapak dan ibu yang terhormat.

Suatu saat,.. saya terperangah. Teringat pada seorang Ustadz yang memberikan wejangan. “Allah tak melihat hasil akhir, Allah akan melihat perjuangan kita dalam penilaian” kemudian.. adapula “AKU tergantung pada sangka hambaKU“ satu lagi “Sejatinya Allah tak pernah memberikan kasih yang berbeda pada umat manusia. Yang baik, yang Jahat, yang BerIman, yang Kafir, yang berkulit hitam, yang berkulit putih dan semua kriteria lain.. rata tanpa pilih kasih, kita semua akan mendapatkan hak dan jatah yang sama. Misalnya untuk menghirup Oksigen, untuk melihat hijaunya daun dan sejuta karunia yang lain”. ya Allah ampuni saya ya Allah. Satu lagi ungkapan kebodohanku terlihat didepan mata. Apa yang terjadi denganku selama ini??? Kenapa saya tak mampu melihat “korelasi” antara ucapanku dan perbuatananku???

Yah.. saya dengan segala kebodohanku, akhirnya tersadar.

Allah adalah Dzat yang Maha.. Maha segalaNYA. Maha atas segala apa yang ada di Dunia bahkan Akhirat. Tentu akan sangat mudah bagiNYA untuk melakukan sebuah evaluasi terus menerus pada apa yang kulakukan. Dan pada semua umat manusia, satu demi satu teliti dan terperinci. Subhanallah. Untuk itulah hasil “rapot-an” kita berbeda. Sangat berbeda pada setiap manusia (subhanallah) ini terkait dengan jumlah manusia yang tak terhitung.

Jadi sayapun menyadari (alhamdulillah ya Allah) sebenarnya, apa yang kita lakukan tidaklah mengakibatkan Allah akan memberikan kenikmatan lebih dari sahabat yang lain jika dan hanya jika tindakan kita berada pada saat dan situasi yang salah.. (aduh maaf agak berbelit ya?) Ini cocok dengan sebuah penyampaian dari Bp Mario Teguh. Beliau berkata, hari itu, beliau mendapat sebuah voucher menginap gratis 2 malam dari sebuah hotel. Beliau simpan voucher tersebut di kantong bajunya dan berangkatlah beliau menuju sebuah seminar, dimana beliau menjadi pembicara disana. Diatas podium, beliau berencanauntuk memberikan voucher ini, sebagai surprise gift, pada penanya pertamanya. Forum tanya jawabpun dibuka setelah wejangannya. Tak satupun bertanya. Ditunggunya.. 5 menit, 10 menit, 15 menit, hingga akhir masa tanya jawab, tak ada satupun yang bertanya!!! (hah???) berlalulah kesempatan untuk mendapatkan voucher menginap 2 malam gratis. (waaaaaak) Yang menggodaku adalah pertanyaan, kenapa Bp Mario Teguh tidah menyampaikan keinginan untuk memberikan voucher ini disampaikan pada forum, saya yakin jika ini beliau lakukan pasti akan begitu banyak yang bertanya.

Hubungannya apa?

Dari semua informasi itu, saya tersadar. Bahwa selama ini saya yang salah. Dengan kemampuanku menganalisa persoalan (sekali lagi ampuni saya ya Allah, saya sangat sombong), saya suka sekali MEMBATASI yang merasa tahu apa yang akan saya peroleh dengan apa yang saya lakukan. Bagaimana jika ternyata dengan sifat kasih dan sayangNYA, Allah yang Maha Penyayang, menganggap saya sebagai sosok yang layak untuk mendapatkan nilai 10, berlawanan dengan kenyataan nilai max saya hanya 7, karena walaupun saya telah belajar selama seminggu tanpa istirahat, saya tak punya kemampuan untuk memecahkan soal yang ada di kertas ujian. Nilai 7 adalah “nilai karangan” saya, Nilai yang saya kira layak untukku. Sedang nilai 10 adalah nilai nyata dari Allah. Tapi karena saya selalu berkeyakinan bahwa nilai saya hanya 7, maka jadilah nilai 7 itu yang ada di kertas ulangan saya.

Nilai 10 bisa jadi ada diatas kertas ulangan saya, jika saya dengan segala kepasrahan saya, setelah belajar selama seminggu tanpa istirahat, saya berpasrah.. melepaskan penilaian ini pada Allah untuk memberikan nilai yang pantas untukku. Sama dengan para penanya, saya tak berani melakukan sebuah tindakan nyata (bertanya). Saya sibuk dengan diri saya sendiri. Membuat jawaban sendiri akan doa-doa yang dipohonkan. Tak mau melihat bahwa Allah telah menyiapkan sebuah “surprise gift” yang sama sekali tidak saya sangka sangka. Akhirnya.. sama dengan para penanya yang tak berani bertanya, saya pun tak mendapatkan.

Atau, ini kasus yang sama (untukku), bagaimana sibuknya saya (sombong ya) merasa lebih tahu dariNYA. (duuh) jika seorang pembantu datang kepadaku dan mengajukan sebuah nilai rupiah fantastis untuk upahnya selama sebulan. Saya bisa jadi akan menjadi tak nyaman. Akhirnya ada 2 sikap yang mungkin akan saya lakukan. Pertama saya akan katakan padanya untuk tidak dapat menerima, karena syarat yang diajukannya terlalu tinggi untuk lingkungan dimana saya tinggal, disisi lain saya belum pernah tahu bagaimana ia bekerja. Yang kedua, bisa jadi saya menerimanya bekerja, tapi saat itu saya katakan padanya, dengan gaji fantastis yang dia minta, selayaknya jika ia bekerja dengan hasil yang fantastis juga. (Ooooo) Berbeda, jika yang datang adalah seorang perempuan yang dengan rendah hati berkata, ibu, tolong, ibu lihat kerja saya selama sebulan, jika ibu tidak cocok, saya rela tidak ibu ijinkan bekerja disini. Tetapi jika ternyata ibu puas pada hasil kerja saya, saya percaya ibu cukup tahu berapa besar gaji yang tepat untuk saya. Duuuuhh (ini pernah terjadi, dan saya memang berikan dia gaji 2 x lipat dari standrat yang ada di lingkunganku tinggal)

Kembali lagi.., dengan pemikiran yang demikian. Saya berusaha untuk merubah pola pemikiran saya. Tak lagi mau untuk “memplot” hasil.

Saya akan tetap bekerja dengan seluruh daya yang kumiliki.. Totalku berpasrah.. Ahhh ya.. ini yang tadi lewat ucapan sang Ustadz di Radio Roja, disebut sebagai difinisi Qona-ah. Subhanallah. Kadang cara Allah memberiku pemahaman sangatlah berliku (Ahh apa ini juga bukan karena pemikiranku yang berliku ya??? Allah telah memberikan sudut-sudut cerah dengan cahayaNYA, tapi saya masih saja berputar-putar dengan bermacam gaya, tak mampu melihat kilau cahayaNYA, apalagi menghampiri. Ampuni saya ya Allah, sungguh ini sifat khas manusia…

sumber: www.cahayamuslimah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar