Kebetulan saya punya seorang teman yang mempunyai seorang anak penyandang cacat (kerusakan di otak sejak lahir).
Dia cerita bahwa seringkali ditawarkan mujizat kesembuhan dan dibilang bahwa anaknya nggak sembuh2 karena dia kurang beriman.
Sering diajak untuk ke Tiberias, ke acara2 penyembuhan dsb yang katanya banyak terjadi mujizat penyembuhan di sana.
Tapi temanku ini cerita, meski pernah merasa gereja Katholik sepertinya kurang memberikan perhatian pada para penyandang cacat (mungkin di Indonesia? karena kalau di luar negeri kurang tahu ya...), dia tidak punya keinginan untuk pindah dari iman Katholiknya.
Dia memilih untuk tidak lari dari gereja Katholik, tapi mencoba untuk memberikan masukan2 mengenai penyandang cacat dan permasalahannya bagi gereja.
Karena menurutnya, bukan ajaran Katholiknya yang salah tapi ketidaktahuan orang2 di dalam gereja Katholik mengenai permasalahan penyandang cacat yang menjadikan kekurangan itu.
Maka sebagai orang Katholik, dia merasa bahwa dia tidak boleh hanya mengeluh pada gereja, tapi mencoba menyumbangkan apa yang bisa dia berikan bagi kebaikan gereja.
Wah..saya salut dengan pandangannya ini...karena mungkin banyak juga ya yang begitu merasa kecewa dengan gereja Katholik lalu begitu saja meninggalkannya.
(Dia yang menulis surat yang pernah saya post di thread Penggalangan Dana Untuk Hari Internasional Penyandang Cacat 2009).
Menurutnya, menjadi Katholik selama ini justru telah memberikan dia banyak kekuatan dan penghiburan.
Juga sebagai seorang ibu di kala lagi down ketika anaknya sedang menderita (entah itu karena menahan sakit ataupun karena perlakuan2 orang yang seringkali kurang menyenangkan terhadap anaknya), dia bisa selalu curhat ke Bunda Maria untuk menguatkan hatinya,
bisa mencontoh Bunda Maria yang mau tetap berdiri tegak mendampingi Yesus sampai di bawah kaki salib.
Katanya, tidak ada contoh ibu yang begitu sempurna seperti Bunda Maria, yang maudan bisa mendampingi Yesus dalam penderitaan yang begitu hebat.
Jadi, katanya, ia ingin juga bisa menjadi seperti Bunda Maria yang setia mendampingi anaknya, bagimanapun penderitaan yang harus dilaluinya.
Karena menurutnya, melalui tantangan2 dalam mendampingi anaknya itulah dia sepertinya sedang diajak belajar untuk mengikuti Yesus.
Kata temanku itu, melalui pengalaman sering mendapat tawaran/iming2 mujizat, ia merasa bahwa mujizat sepertinya seringkali disalahartikan karena bukan lagi dilihat sebagai kuasa Tuhan tapi justru dilihat/digunakan sebagai "alat" untuk menunjukkan atau memamerkan "kuasa" manusia.
Mengapa mujizat seringkali hanya dihubungkan dengan sesuatu yang "wah" atau yang "spektakuler" di mata manusia? padahal mujizat itu bisa terjadi setiap hari dan dalam hal2 yang begitu "sederhana"...begitu katanya.
Dia sharing catatan hariannya seperti di bawah ini :
Mukjizat
Barusan, di milis parents support group,
kami membahas sebuah kasus yang cukup heboh...
Kami sedang seru membicarakan sebuah peristiwa "ajaib".
Seorang anak perempuan yang lahir tanpa otak
merayakan ulangtahunnya yang ke 9. (maksudnya, ia hanya
punya batang otak saja, bagian otak yang ada syarafnya...
yang bentuknya melingkar-lingkar seperti usus itu...tidak ada)
Secara medis, anak itu tidak mungkin bisa hidup.
Ternyata, ia memang hidup...bahkan sekarang 9 tahun.
Tapi... ya seperti boneka saja karena tidak dapat merasakan dan melakukan apa-apa.
Tapi ibunya tetap merawat anak ini...dimandikan, disuapi, didandani
dengan cantik..rambutnya diberi pita...dibedaki dan diajak bicara...
pokoknya layaknya anak yang memang benar "hidup".
Orang-orang semua membicarakan "keajaiban' yang terjadi pada anak ini.
Ibu itu lalu membagi cerita pada kami, apa yang ia rasakan....
Sebagai orangtuanya, ia sebetulnya merasa risi dan sedih dengan semua hiruk pikuk itu.
Katanya, sejak berita itu masuk di koran, banyak yang datang berkunjung
hanya karena ingin melihat keajaiban itu.
Orang-orang kini seakan-akan menantikan akhir sebuah cerita.
Apakah akan berakhir dengan "happy ending" atau tidak.
Kata ibu itu...anakku sekarang dijadikan orang sebagai
"barang hiburan" dan "taruhan"....orang-orang seakan bertaruh...
apakah anak saya akan terus hidup atau mati setelah 9 tahun ini.
Seorang anggota parents support sempat menanyakan apakah ibu itu
mengharapkan agar suatu mukjizat bisa terjadi.
Tapi ibu itu berkata kepada kami, "Tidakkah kalian melihat?
Mukjizat itu telah terjadi.
Mukjizat itu terjadi ketika saya memutuskan untuk tetap merawat anak saya ini.
Bukankah itu suatu mukjizat? Seorang yang lemah seperti saya ini bisa
mengambil keputusan tersebut, menjalaninya hingga 9 tahun... sehari demi sehari.
Saya sendiri tidak mengerti bagaimana saya bisa melakukan semua ini.
Bukankah ini suatu mukjizat...bahwa saya bisa sekuat ini?"
Lalu, kata-kata terakhir ibu itu kurang lebih begini...
Orang sering melihat bahwa mukjizat adalah peristiwa ketika keinginan
manusia dipenuhi atau dikabulkan oleh Tuhan.
Ada orang yang lumpuh misalnya....
orang berdoa agar Tuhan bisa membuat orang itu berjalan lagi.
Dan tiba-tiba orang itu bisa berjalan.
Maka...mereka bilang mukjizat telah terjadi.
Sebenarnya, yang terjadi adalah Tuhan menyuruh orang itu berjalan...
dan orang lumpuh itu melaksanakan apa yang Tuhan suruh itu.
Maka, terjadilah mukjizat.
Jangan pernah berpikir bahwa mukjizat itu, dimana orang lumpuh itu bisa
berjalan terjadi karena Tuhan melaksanakan keinginan atau permintaan manusia.
Siapakah kita ini...bisa menyuruh Tuhan untuk menuruti kehendak
atau keinginan kita itu?
Tidak...bagi saya, yang disebut mukjizat itu adalah ketika manusia mau
melaksanakan kehendak Tuhan...
bukan kalau Tuhan mengabulkan keinginan manusia.
Karena itu...seperti saat ini, orang begitu sibuk mencari-cari apa yang mereka sebut "mukjizat".
Mereka sekarang ingin mencarinya pada anak saya...
Mereka tidak menyadari...bahwa mukjizat itu sebenarnya sudah ada di depan mata mereka...
Anda mau melihat sebuah mukjizat?
Lihatlah dan pandanglah saya...dan kamu akan menemukan mukjizat Tuhan ada di situ....
Karena, yang kamu lihat sekarang ini...apa yang saya lakukan ini...
sungguh adalah pekerjaan Tuhan....bukan pekerjaan saya.
Seandainya anak saya tidak bisa bertahan lagi....apakah itu berarti tidak terjadi mukjizat?
Saya katakan sekali lagi...mukjizat itu telah terjadi!
Ketika Tuhan menyuruh saya....
ketika saya mau melaksanakannya apa yang Tuhan suruh itu yaitu memelihara, merawat dan memberikan cinta saya pada anak saya yang "ajaib" ini...
mukjizat itu telah terjadi...
sumber:www.google.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar