Tampilkan postingan dengan label Psi.Lingkungan (Artikel). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psi.Lingkungan (Artikel). Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Privasi (artikel)

Sumber : http://www.hukumhiburan.com/id/index_sub.php?tab=artikel&judul=MEWASPADAI%20PELANGGARAN%20PRIVASI%20DI%20TELEVISI%20INDONESIA&tgl=2006-06-12&headerimage=cap08



penjelasan artikel yaitu, karena memang tidak berasal dari akar budaya masyarakat kita, maka perlindungan Privasi seperti tidak mendapatkan perhatian secara khusus. Seandainya pun ada ketentuan hukum yang mengaturnya maka pengaturan tersebut dilakukan secara parsial dan tidak menyeluruh. Hak atas Privasi dapat diterjemahkan sebagai hak dari setiap orang untuk melindungi aspek-aspek pribadi kehidupannya untuk dimasuki dan dipergunakan oleh orang lain (Donnald M Gillmor, 1990 : 281).

Menurut Altman (dalam Prabowo, 1998), mendefinisikan privasi adalah proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri sendiri dan akses kepada orang lain. Menurut Prabowo (1998) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi privasi adalah faktor personal, faktor situasional, dan faktor budaya yang dimana bahwa pada tiap-tiap budaya tidak ditemukan adanya perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan, tetapi sangat berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapat privasi. Gifford (dalam Prabowo, 1998).

Pengaruh Privasi terhadap Perilaku, saat privasi kita terganggu maka secara langsung akan menimbulkan rasa tidak menyenangkan pada diri. Menurut Westin (dalam Prabowo , 1998) dengan privasi kita juga dapat melakukan evaluasi diri dan membantu kita mengembangkan dan mengelola perasaan otonomi diri (personal autonomy). Otonomi ini meliputi perasaan bebas, kesadaran memilih dan kemerdekaan dari pengaruh orang lain.
Sedangkan Privasi dalam Konteks Budaya, faktor budaya berkaitan dengan erat dengan perbedaan tentang privasi ditiap kebudayaan yang ada.

Teritorialitas (artikel)

Sumber : http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=11300&coid=1&caid=27


Penjelasan dalam artikel yaitu ruang teritorial yang dimiliki negara akan menentukan kedaulatan, power, bahkan keamanan yang dimiliki negara. Karena itu, batas dan luas teritorial berperan amat signifikan dalam menentukan eksistensi suatu negara. Gagasan utama penentuan batas teritorial ini adalah untuk membedakan negara secara fisik. Selain itu, batas negara juga menjadi alat untuk mengontrol aliran barang, gagasan, dan ideologi.

Elemen-elemen Teritorialitas
menurut beberapa ahli yaitu:
1. Porteus (dalam Lang, 1987) mengidentifikasi 3 kumpulan tingkat spasial yang
saling terkait satu sama lain:
a. Personal space, yang telah banyak dibahas di muka.
b. Home Base, ruang-ruang yang dipertahankan secara aktif, misalnya rumah tinggal
atau lingkungan rumah tinggal.
c. Home Range, seting-seting perilaku yang terbentuk dari bagian kehidupan
seseorang.
2. Sedangkan menurut Lang (1987), terdapat empat karakter dari territorial, yaitu
a)Kepemilikan atau hak dari suatu tempat
b)Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu
c)Hak untuk mepertahankan diri dari gangguan luar
d)Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis
sampai kepada kepuasaan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika.

Stres (artikel)

Sumber artikel: http://vano2000.wordpress.com/2010/05/05/kesesakan-dan-perilaku-agresif-di-penjara/


Penjelasan dari artikel, jadi Salah satu penyebab timbulnya stress di penjara adalah kondisi penjara yang sangat jauh dari kondisi ideal. baik dari kondisi fisik penjara, terkadang ukurannya kecil, orangnya banyak, sehingga menyebabkan para tahanan cenderung merasa sesak akan kondisi tersebut dan membuat menjadi stress. Kesesakan yang terjadi di dalam penjara berdampak pada tingkat stress, agresifitas, dan bahkan bunuh diri.

Stress mempunyai hubungan positif dengan kesesakan. ketika seseorang mengalami kesesakan yang tinggi, maka tingkat stres pun tinggi. Di penjara, dengan kondisi yang serba terbatas, mulai dari ruangan yang sempit, informasi, dan hiburan terbatas, membuat tingkat stres cenderung tinggi. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya ruang gerak, serta keinginan untuk melakukan apa yang dimau.

Menurut teori behaviour constraint, lingkungan bisa membatasi seseorang dalam berperilaku. Bila hal itu terjadi, yang pertama muncul adalah perasaan tidak nyaman, dan perasaan negatif, dan bahkan bisa menimbulkan stress bila berlangsung lama.

Istilah stres itu sendiri menurut Lazarus (dalam Prabowo, 1998), stress adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal.
Jenis stres menurut Robbins ada Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak) dan Psychological stress terjadi ketika individu menjumpai kondisi lingkungan yang
penuh stress sebagai ancaman yang secara kuat menantang atau melampaui kemampuan copingnya. Sedangkan model stres menurut Cox (dalam Prabowo, 1998)salah satunya Overload, yang dimana ketika sebuah stimulus datang secara intens dan individu tidak dapat mengadaptasi lebih lama lagi.

Ruang Personal (artikel)

Sumber artikel: http://vano2000.wordpress.com/2010/05/05/kesesakan-dan-perilaku-agresif-di-penjara/


penjelasan dari artikel jadi, di dalam penjara, Ketika seseorang mempersepsikan ruang personalnya dilanggar orang lain, maka akan menimbulkan keterbangkitan (arousal) pada diri orang tersebut.
Ruang personal menurut Goofman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak/daerah disekitar individu dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkan orang lain tersebut merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.

Ruang personal adalah area individu yang berada di sekitarnya, ketika ruang tersebut dilanggar, maka timbul perasaan yang tidak nyaman (Haim, dkk., 2002). Di penjara, dengan kondisi yang serba terbatas, akan memungkin terjadinya pelanggaran terhadap ruang personal seseorang. Ketika pelanggaran itu terjadi, maka dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, dan akan berlanjut mengalami kesesakan. Bila ini terjadi terus bisa menimbulkan perilaku agresif bagi orang yang dilanggar ruang personalnya.

Senin, 18 April 2011

kesesakan (artikel)

Sumber artikel;
http://vano2000.wordpress.com/2010/05/05/kesesakan-dan-perilaku-agresif-di-penjara/


dalam artikel, kesesakan yang terjadi dipenjara dalam teori kesesakan, muncul karena faktor lingkungan yang dimana capasity atau jumlah maksimum penghuni yang ditampung banyak. dalam teori perilaku, keadaan dapat dikatakan sesak apabila suatu kondisi yang membatasi aktifitas individu tersebut dalam suatu seting.
faktor lain yang memunculkan kesesakan yaitu faktor personal(berkaitan dengan tingginya kepadatan yang dapat memberikan kontribusi terhadap munculnya kesesakan) dan faktor sosial(berkaitan dengan kehadiran dan perilaku orang lain).

Jumat, 04 Maret 2011

Mereka Bertahan di Gang Sempit


Permukiman padat penduduk di tepi rel kereta api di kawasan Petamburan, Jakarta, Jumat (7/1/2011)

KOMPAS.com — Sepintas melintas di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, kondisinya seperti permukiman biasa. Namun, di antara rumah itu, terselip gang-gang. Sebagian selebar kurang dari 1 meter. Di kiri kanan gang itu berdiri rumah petak dengan penduduk yang tidak sedikit.

Walau gang sempit dan sanitasi pas-pasan, Carsinem bertahan di situ, di rumah petak bersama suami dan seorang anaknya. Rumah itu berada di RT 04 RW 05 Kelurahan Tanah Tinggi.

Di seberang rumahnya, tinggal Herlina—anak sulungnya—bersama keluarganya. Herlina juga tinggal di rumah petak.

Kehidupan Carsinem ditopang dari ketan-serundeng yang setiap hari dimasak olehnya. Lantaran rumah yang terlalu sempit, Carsinem memasak di depan rumah. Ketan yang sudah matang sebagian besar dijual Herlina. Ada pula tetangga yang turut mengambil ketan dan menjualkan ke pasar.

Herlina biasa membawa dagangan itu ke Pasar Gembrong yang tidak jauh dari rumah mereka. ”Selain ketan, saya juga menjual susu kedelai,” kata Herlina.

Dari hasil menjual ketan, Carsinem bisa mengantongi keuntungan Rp 50.000 per hari. Itu kalau semua dagangan habis terjual. Jika tidak, tentu hasilnya tidak sampai segitu.

Uang itulah yang digunakan Carsinem untuk mencukupi makan sehari-hari dan aneka kebutuhan. Kebutuhan harian yang dikeluarkannya, antara lain, untuk membayar uang pakai kakus sebesar Rp 500 sekali pakai.

Hal serupa terjadi di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Sebagai kecamatan kedua terpadat di DKI Jakarta, sejumlah gang di kecamatan ini juga ditumbuhi rumah petak yang rapat. Kondisinya mirip dengan Johar Baru, lengkap dengan gang sempit dan rumah sempit yang dihuni banyak orang.

Samin (70), salah seorang warga RT 02 RW 03 Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, mengatakan, pertumbuhan penduduk diikuti dengan menjamurnya rumah di setiap jengkal lahan yang ada. Akibatnya, pemandangan di tempat itu hanya melulu rumah tinggal yang berimpitan, menjulang hingga dua atau tiga lantai, menutup semua pemandangan di luar perkampungan itu.

Kepadatan tidak hanya terjadi di luar rumah Samin. Di dalam rumahnya sendiri, kepadatan itu juga sangat terasa. Rumah ukuran 4 meter x 8 meter berlantai dua itu harus dihuni oleh 18 orang, yaitu Samin, istrinya, kedelapan anaknya, empat menantu, dan empat cucu. ”Semua tinggal di sini, makan di sini,” ujarnya.

Mereka menempati kamar-kamar kecil di lantai atas rumah yang terbuat dari papan dan kayu. Samin membuka warung makan kecil yang mengambil sebagian ruang tamu dan teras rumahnya.

Kepadatan di sekitar tempat tinggalnya, menurut Samin, sudah mulai terjadi sekitar 1980-an. Makin kemari, jumlah pendatang ke tempat itu makin tidak terkendali.

Gang-gang sempit antarrumah pun dimanfaatkan untuk memasak, mencuci, dan kegiatan rumah tangga lain. Di salah satu gang, Gang Venus, suasana terasa pengap dan gelap karena tidak mendapat sinar matahari. Langit tertutup bangunan yang menyatu di bagian atasnya.

Tidak hanya itu, kepadatan penduduk yang teramat sangat juga memudahkan terjadi pergesekan sosial antarwarga yang berujung pada berbagai kejadian, seperti tawuran. Di Johar Baru bahkan sedikitnya ada tiga titik lokasi tawuran. Di Tambora, menurut Cholil, Ketua RW 3 Jembatan Besi, tawuran antarpemuda bisa terjadi hampir setiap pekan.

Kohesi sosial

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Fadhil Imran, dalam karya tulisnya berjudul ”Determinan Ekologi terhadap Kejahatan” menyebutkan, ada dua penyebab munculnya kejahatan di kawasan kumuh padat, yaitu kondisi fisik lingkungan yang kumuh dan miskin infrastruktur serta lingkungan sosial yang tidak bersahabat.

Dari dua penyebab itu, lingkungan sosial menjadi penentu utama. Lingkungan sosial ditentukan dua hal, yaitu tingkat kepadatan penduduk dan kohesi sosial.

”Semakin padat kawasan kumuh, kawasan tersebut akan semakin tertekan kemiskinan. Semakin kawasan tersebut tertekan kemiskinan, semakin lemah kohesi sosial di kawasan tersebut. Semakin lemah kohesi sosial, semakin tinggi tingkat kejahatan,” tuturnya saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Sistem dan struktur sosial pun kemudian berubah dan ditentukan tingkat pendapatan seseorang tanpa melihat lagi halal haramnya pendapatan. ”Yang terbentuk kemudian hubungan patron client dunia kejahatan jalanan di lingkungan tersebut,” ujar Fadhil.

”Solusi jangka pendeknya adalah mengurangi luas kawasan kumuh sampai pada titik minimal syarat sosial sebuah komunitas kawasan dipenuhi,” ucapnya.

Kepala Pusat Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Rahmat Hidayat mengatakan, setiap orang membutuhkan minimal 10 meter persegi untuk ruang pribadi.

Padatnya penduduk di permukiman dan kemiskinan merupakan faktor risiko yang memengaruhi kesehatan jiwa seseorang. Setiap individu memiliki kapasitas atau kemampuan yang berbeda untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Untuk itu, pembangunan perkotaan perlu memerhatikan keberadaan ruang publik yang bisa digunakan masyarakat untuk melepas stres dan berinteraksi dengan sesama.

Dosen Jurusan Sosiologi Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto berpendapat, lonjakan jumlah penduduk tanpa diimbangi pertambahan peluang ekonomi akan membuat kemiskinan yang dialami masyarakat makin meluas dan mendalam. Tekanan kemiskinan yang parah membuat masyarakat frustrasi dan dilampiaskan dalam berbagai perilaku negatif, mulai sikap anarki hingga bunuh diri.

Diperlukan langkah berani untuk menata kawasan itu. Pembangunan rumah susun sudah sangat mendesak, begitu pula dengan penertiban bangunan yang melanggar ketentuan, penindakan pemakaian listrik ilegal, serta pendataan dan pengawasan arus keluar masuk penduduk.
Kalau tidak, kawasan kumuh di Jakarta tidak akan pernah hilang. (MZW)

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2011/01/19/09312256/Mereka.Bertahan.di.Gang.Sempit