Persiapan menjelang UASBN kelas 6 telah membuatku deg-degan mengurusi salah satu murid lesku sejak 6 bulan yang lalu. Aku mencari materi latihan soal dan berusaha mencicil latihan UASBN ditengah-ditengah waktu les yang telah dipadati PR dan persiapan ulangan harian.
Salah satu kerepotan mengajar anak berkebutuhan khusus walaupun terutama autistic (either mild or severe), sulitnya menjelaskan makna tersirat dalam sebuah teks. Cobaan itu muncul ketika aku dan muridku duduk bersama membahas soal peribahasa di salah nomer pertanyaan UASBN. Pertanyaan itu adalah: apa makna peribahasa seperti kacang lupa kulitnya. Muridku dengan wajah serius pun menjawab: Telanjang Bu. Wuahahahaha. Aku bertahan untuk tidak tertawa panjang dan mencoba pelan-pelan menjelaskan maknanya..
Sumber : http://vsebayang.com
Jumat, 30 April 2010
Sama spt anak lainnya, mereka harus diberi kesempatan untuk bertumbuh secara optimal
Di sebuah Sekolah Minggu, ada kasus yang agak berbeda. Sebut saja seorang anak yang bernama Deni (bukan nama sesungguhnya). Deni dikenal sebagai seorang anak yang “bodoh” (diperkuat dengan bukti bahwa Deni pernah tidak naik kelas) dan kurang bisa bergaul karena dia cenderung lebih suka bermain sendiri daripada berbaur bersama dengan teman-temannya. Hingga suatu hari, ada fenomena baru yang membuat para Guru Sekolah Minggu dan teman-teman melihat sesuatu yang lain dalam diri Deni.
Deni mengajak seorang teman baru ke Sekolah Minggu, uniknya, teman baru tersebut adalah seorang anak yang tunarungu / tuli. Ëntah dimana Deni pernah belajar bahasa isyarat, atau mungkin juga Deni sebenarnya belum pernah mempelajarinya, tetapi itu tidak penting. Yang sungguh mengejutkan adalah, Deni bisa berkomunikasi dengan baik dengan temannya yang tunarungu tersebut, bahkan di Sekolah Minggu, dengan bangga Deni menjadi “penerjemah” sekaligus pendamping bila temannya yang tunarungu tersebut membutuhkan bantuannya. Kejadian ini membuktikan bahwa sebenarnya Deni tidaklah bodoh, dan tidak benar juga bila dikatakan dia tidak pandai bergaul.
Anak-anak seperti Deni, yang mungkin menyandang sebutan Learning Disability (mengalami kesulitan belajar), atau biasa dikatakan “lamban” (slow learner), umumnya dirugikan karena “bukti akademik” yang dicapainya tidaklah sehebat teman-teman sebayanya. Ditambah lagi dengan stigma bahwa dia pernah tidak naik kelas, akan semakin memperburuk keadaannya. Anak-anak seperti ini selamanya akan hidup di bawah bayang-bayang persepsi orang lain akan “kelemahannya” tersebut.
Sudah saatnya kita mulai menyadari bahwa tidak ada gunanya untuk berfokus pada kekurangan atau kelemahan seseorang. Akan jauh bermanfaat dan membangun, bila kita mau mengganti fokus kita pada kelebihan dan keunikan orang lain. Saat kita belajar untuk menghargai keunikan orang lain, dan berupaya untuk melihat kelebihan orang lain, maka hal positif lah yang akan kita tuai.
Di sebuah Sekolah Dasar, dimana saya pernah memberikan pelatihan tentang Multiple Intelligences, ada sebuah temuan yang menarik. Para siswa kelas 1 SD di sekolah ini, dimasukkan / dikelompokkan ke dalam kelas berdasarkan hasil Tes IQ. Dimana kelas 1A berisikan para siswa yang memperoleh nilai Tes IQ tinggi, kelas 1B siswa yang memperoleh nilai Tes IQ sedang, dan kelas 1 C, tentu saja, siswa-siswa yang memperoleh nilai Tes IQ lebih rendah dibanding siswa-siswa di kedua kelas sebelumnya. Anak-anak ini sudah di”cap” dan diberi stigma, bahkan sebelum mereka menunjukkan prestasi akademik mereka yang sesungguhnya. Alhasil, sepanjang semester yang telah berlalu, mereka, karena diperlakukan seperti anak-anak yang “kurang pandai” juga menunjukkan hasil akademik yang lebih rendah dibanding kedua kelas lainnya.
Tetapi, saat Guru mereka mencoba mempraktekkan model pengajaran Multiple Intelligences, hasil yang dicapai oleh siswa-siswa di kelas ini sungguh menggembirakan. Kami menemukan, bahwa ternyata kekuatan para siswa di Kelas 1 C ini pada umumnya adalah pada gaya belajar KINESTETIK, dimana mereka akan lebih mampu menyerap materi pelajaran melalui pengalaman praktek di lapangan ketimbang mendengarkan ceramah di dalam kelas.
Jadi sebenarnya, anak-anak yang selama ini dianggap memiliki kelemahan belajar atau kurang pandai, bisa saja sebenarnya adalah anak-anak yang memiliki gaya belajar yang TIDAK terwakili di sekolahnya. Kalau saja lingkungan mereka lebih “ramah” dan lebih “manusiawi”, niscaya anak-anak ini akan dapat tumbuh secemerlang teman-teman lain yang memang memiliki nilai IQ yang lebih tinggi.
Bila praktek-praktek di Sekolah “konvensional” telah menyebabkan sebagian anak terhambat perkembangannya, terutama dalam hal emosi dan sosial, baiklah di rumah dan di Gereja, di Sekolah Kristen maupun Sekolah Minggu tidak perlu melakukan kesalahan yang sama. Perlu kita mengevaluasi diri kita sendiri sebagai Orang Tua, Guru Kristen, dan juga Guru Sekolah Minggu atau Aktivis Pelayanan Anak.
- Apakah kita telah menyediakan lingkungan yang “ramah” dan “manusiawi” bagi setiap anak
untuk bertumbuh secara optimal?
- Apakah kita sudah menghargai keunikan setiap anak serta mendorong mereka untuk
berkembang sesuai dengan potensi / bakat minatnya masing-masing?
- Adakah tempat bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus di rumah atau di kelas yang
kita asuh?
Mari, agar hidup kita sebagai orang-orang yang telah dipanggil Tuhan berpadanan dengan panggilan itu. Dengan penuh kasih, kita saling menguatkan dan mendukung saudara-saudara kita yang hidup bersama anak-anak berkebutuhan khusus, kita memberi dengan sukacita dan menolong, sesuai talenta maupun karunia yang Tuhan berikan, agar anak-anak dengan kebutuhan khusus yang kita layani boleh makin bertumbuh di dalam Tuhan. Dan pada akhirnya, nama Tuhan saja yang makin dipermuliakan.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Deni mengajak seorang teman baru ke Sekolah Minggu, uniknya, teman baru tersebut adalah seorang anak yang tunarungu / tuli. Ëntah dimana Deni pernah belajar bahasa isyarat, atau mungkin juga Deni sebenarnya belum pernah mempelajarinya, tetapi itu tidak penting. Yang sungguh mengejutkan adalah, Deni bisa berkomunikasi dengan baik dengan temannya yang tunarungu tersebut, bahkan di Sekolah Minggu, dengan bangga Deni menjadi “penerjemah” sekaligus pendamping bila temannya yang tunarungu tersebut membutuhkan bantuannya. Kejadian ini membuktikan bahwa sebenarnya Deni tidaklah bodoh, dan tidak benar juga bila dikatakan dia tidak pandai bergaul.
Anak-anak seperti Deni, yang mungkin menyandang sebutan Learning Disability (mengalami kesulitan belajar), atau biasa dikatakan “lamban” (slow learner), umumnya dirugikan karena “bukti akademik” yang dicapainya tidaklah sehebat teman-teman sebayanya. Ditambah lagi dengan stigma bahwa dia pernah tidak naik kelas, akan semakin memperburuk keadaannya. Anak-anak seperti ini selamanya akan hidup di bawah bayang-bayang persepsi orang lain akan “kelemahannya” tersebut.
Sudah saatnya kita mulai menyadari bahwa tidak ada gunanya untuk berfokus pada kekurangan atau kelemahan seseorang. Akan jauh bermanfaat dan membangun, bila kita mau mengganti fokus kita pada kelebihan dan keunikan orang lain. Saat kita belajar untuk menghargai keunikan orang lain, dan berupaya untuk melihat kelebihan orang lain, maka hal positif lah yang akan kita tuai.
Di sebuah Sekolah Dasar, dimana saya pernah memberikan pelatihan tentang Multiple Intelligences, ada sebuah temuan yang menarik. Para siswa kelas 1 SD di sekolah ini, dimasukkan / dikelompokkan ke dalam kelas berdasarkan hasil Tes IQ. Dimana kelas 1A berisikan para siswa yang memperoleh nilai Tes IQ tinggi, kelas 1B siswa yang memperoleh nilai Tes IQ sedang, dan kelas 1 C, tentu saja, siswa-siswa yang memperoleh nilai Tes IQ lebih rendah dibanding siswa-siswa di kedua kelas sebelumnya. Anak-anak ini sudah di”cap” dan diberi stigma, bahkan sebelum mereka menunjukkan prestasi akademik mereka yang sesungguhnya. Alhasil, sepanjang semester yang telah berlalu, mereka, karena diperlakukan seperti anak-anak yang “kurang pandai” juga menunjukkan hasil akademik yang lebih rendah dibanding kedua kelas lainnya.
Tetapi, saat Guru mereka mencoba mempraktekkan model pengajaran Multiple Intelligences, hasil yang dicapai oleh siswa-siswa di kelas ini sungguh menggembirakan. Kami menemukan, bahwa ternyata kekuatan para siswa di Kelas 1 C ini pada umumnya adalah pada gaya belajar KINESTETIK, dimana mereka akan lebih mampu menyerap materi pelajaran melalui pengalaman praktek di lapangan ketimbang mendengarkan ceramah di dalam kelas.
Jadi sebenarnya, anak-anak yang selama ini dianggap memiliki kelemahan belajar atau kurang pandai, bisa saja sebenarnya adalah anak-anak yang memiliki gaya belajar yang TIDAK terwakili di sekolahnya. Kalau saja lingkungan mereka lebih “ramah” dan lebih “manusiawi”, niscaya anak-anak ini akan dapat tumbuh secemerlang teman-teman lain yang memang memiliki nilai IQ yang lebih tinggi.
Bila praktek-praktek di Sekolah “konvensional” telah menyebabkan sebagian anak terhambat perkembangannya, terutama dalam hal emosi dan sosial, baiklah di rumah dan di Gereja, di Sekolah Kristen maupun Sekolah Minggu tidak perlu melakukan kesalahan yang sama. Perlu kita mengevaluasi diri kita sendiri sebagai Orang Tua, Guru Kristen, dan juga Guru Sekolah Minggu atau Aktivis Pelayanan Anak.
- Apakah kita telah menyediakan lingkungan yang “ramah” dan “manusiawi” bagi setiap anak
untuk bertumbuh secara optimal?
- Apakah kita sudah menghargai keunikan setiap anak serta mendorong mereka untuk
berkembang sesuai dengan potensi / bakat minatnya masing-masing?
- Adakah tempat bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus di rumah atau di kelas yang
kita asuh?
Mari, agar hidup kita sebagai orang-orang yang telah dipanggil Tuhan berpadanan dengan panggilan itu. Dengan penuh kasih, kita saling menguatkan dan mendukung saudara-saudara kita yang hidup bersama anak-anak berkebutuhan khusus, kita memberi dengan sukacita dan menolong, sesuai talenta maupun karunia yang Tuhan berikan, agar anak-anak dengan kebutuhan khusus yang kita layani boleh makin bertumbuh di dalam Tuhan. Dan pada akhirnya, nama Tuhan saja yang makin dipermuliakan.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Mereka jangan dikucilkan, tetapi diterima
Ada seorang anak Sekolah Minggu, sebut saja namanya Steven (bukan nama sesungguhnya) yang menurut penuturan orang tuanya, mengidap Autis dan Hiperaktif. Steven akan menyentuh apa saja yang ditemuinya, bahkan tidak akan ragu-ragu naik meja untuk mengambil gitar Guru Sekolah Minggu yang sudah “diamankan” di ujung meja sana. Melihat tingkah laku Steven serasa melihat gasing yang selalu berputar. Guru Sekolah Minggu yang bertugas pasti dibuatnya “kerepotan”.
Si Ibu, saya lihat, dengan sabar selalu menemani dan mengikuti, sekaligus menjagai Steven. Sudah bertahun-tahun si Ibu mengalami hal ini, karena kakak Steven dulunya juga mengalami gangguan perkembangan persis seperti yang saat ini dialami oleh Steven. Dalam hati saya berpikir, betapa melelahkannya …. Sekaligus saya sangat salut dengan si Ibu yang tidak pernah saya lihat marah-marah atau menjadi be te karena tingkah laku anaknya tersebut.
Anak-anak seperti Steven, dan orangtuanya juga, perlu merasa diterima oleh lingkungannya. Ibu Steven setiap hari Minggu ke gereja, tetapi tidak pernah bisa ikut kebaktian atau menemani anaknya “duduk manis” di Sekolah Minggu. Steven selalu bergerak setiap detik dan setiap saat, demikian juga si Ibu. Tetapi, alih-alih mengurung Steven di rumah, si Ibu tetap dengan setia, setiap Minggu, mengajak dan menemani Steven ke gereja. Meski pun ini berarti si Ibu juga harus siap keliling gedung gereja, naik turun tangga dari lantai satu ke lantai lainnya (gerejanya punya 4 tingkat tanpa lift), pindah dari satu ruang ke ruang yang lain, demikian seterusnya hingga jam kebaktian berakhir.
Beberapa tahun telah berlalu, dan kadang saya masih sempat berjumpa dengan si Ibu saat menjemput Steven, yang sudah bersekolah di sebuah SD kristen yang sama dengan anak saya waktu itu. Dari perbincangan itu saya bisa merasakan betapa leganya si Ibu setelah akhirnya melewati “masa-masa sulit” dan kini si anak sudah dapat berperilaku “normal” seperti anak-anak lainnya. Banyak orang tua maupun teman Steven yang tidak pernah tahu bila dulu semasa kecilnya, Steven pernah mengalami gangguan perkembangan perilaku.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Si Ibu, saya lihat, dengan sabar selalu menemani dan mengikuti, sekaligus menjagai Steven. Sudah bertahun-tahun si Ibu mengalami hal ini, karena kakak Steven dulunya juga mengalami gangguan perkembangan persis seperti yang saat ini dialami oleh Steven. Dalam hati saya berpikir, betapa melelahkannya …. Sekaligus saya sangat salut dengan si Ibu yang tidak pernah saya lihat marah-marah atau menjadi be te karena tingkah laku anaknya tersebut.
Anak-anak seperti Steven, dan orangtuanya juga, perlu merasa diterima oleh lingkungannya. Ibu Steven setiap hari Minggu ke gereja, tetapi tidak pernah bisa ikut kebaktian atau menemani anaknya “duduk manis” di Sekolah Minggu. Steven selalu bergerak setiap detik dan setiap saat, demikian juga si Ibu. Tetapi, alih-alih mengurung Steven di rumah, si Ibu tetap dengan setia, setiap Minggu, mengajak dan menemani Steven ke gereja. Meski pun ini berarti si Ibu juga harus siap keliling gedung gereja, naik turun tangga dari lantai satu ke lantai lainnya (gerejanya punya 4 tingkat tanpa lift), pindah dari satu ruang ke ruang yang lain, demikian seterusnya hingga jam kebaktian berakhir.
Beberapa tahun telah berlalu, dan kadang saya masih sempat berjumpa dengan si Ibu saat menjemput Steven, yang sudah bersekolah di sebuah SD kristen yang sama dengan anak saya waktu itu. Dari perbincangan itu saya bisa merasakan betapa leganya si Ibu setelah akhirnya melewati “masa-masa sulit” dan kini si anak sudah dapat berperilaku “normal” seperti anak-anak lainnya. Banyak orang tua maupun teman Steven yang tidak pernah tahu bila dulu semasa kecilnya, Steven pernah mengalami gangguan perkembangan perilaku.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Anak berkebutuhan khusus di tengah komunitas anak “normal”
Berbeda dengan anak-anak yang memiliki gangguan fisik (seperti misalnya: tunanetra, tunarungu, atau tunawicara, dan mungkin cacat fisik yang dikarenakan kehilangan anggota tubuh), anak-anak yang memiliki gangguan perkembangan mental umumnya tidak akan pernah bisa mengejar standar kemampuan akademik teman-teman seusianya. Namun, bukan berarti mereka layak dipisahkan atau dilokalisasi dari kehidupan masyarakat pada umumnya. Anak-anak ini tetap memiliki hak asasi untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas “normal” dan hidup bersama-sama di dalamnya. Tentu akan ada layanan-layanan khusus yang menyertai anak-anak ini, misalnya: terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, pengajaran ketrampilan merawat diri sendiri, pengajaran akademik yang fungsional, serta persiapan khusus untuk dapat hidup bermasyarakat se-mandiri mungkin.
Dalam sebuah kesempatan, saya sempat berbincang dengan seorang Guru SD yang mengajar siswa kelas 1. Salah seorang muridnya menderita hydrochepalus (ada cairan di dalam kepalanya). Karena anak ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, belum ada tindakan medis atau terapi apa pun yang sudah dilakukan untuk membantunya mengatasi gangguan perkembangan tersebut. Si Guru dengan penuh kasih sayang, memberikan waktu dan kesabaran yang lebih dalam mengajar anak ini, karena ternyata daya tangkapnya tidaklah sebaik teman-teman sekelasnya, selain itu beberapa gerakan fisiknya juga mengalami gangguan. Meskipun kondisi kelas dan fasilitas yang ada jauh dari sempurna, karena sekolah ini melayani anak-anak dari golongan ekonomi menengah ke bawah (saya berada di kelas tsb selama proses pelajaran berlangsung) saya sungguh dapat merasakan suasana kelas yang menyenangkan, karena baik Guru maupun para siswa, semua menerima anak yang memiliki gangguan perkembangan tsb dengan tangan terbuka.
Salah satu contoh klasik yang sangat mengagumkan adalah riwayat hidup HELEN KELLER. Karena penyakit yang nyaris merenggut nyawanya, si kecil Helen menjadi buta dan tuli sekaligus di usianya yang belum lagi genap 2 tahun. Tak heran bila kemudian Helen bertumbuh menjadi seorang anak yang “liar” dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Sampai suatu saat, seorang guru bernama Anne Sullivan Macy datang untuk membantu dan mengajar Helen. Sejak saat itulah, kehidupan Helen Keller berubah, dari seorang gadis kecil yang hampir tidak memiliki masa depan, menjadi seorang terpelajar yang sangat terkenal, dan pengaruhnya begitu luar biasa hingga namanya saat ini diakui sebagai salah satu Tokoh Dunia yang paling berpengaruh. Helen Keller menjadi orang buta dan tuli pertama yang lulus dari perguruan tinggi (th 1900 Helen Keller lulus tes masuk Harvard University, dan 4 tahun kemudian, Helen menyelesaikan studinya dg nilai memuaskan). Helen bahkan menguasai beberapa bahasa asing seperti Jerman, Perancis, Latin, dan lainnya. Sejak muda hingga masa tuanya, Helen Keller telah berkeliling ke berbagai negara di dunia untuk menyebarkan semangat dan cita-citanya, yaitu agar masyarakat mau menerima dan menghargai orang-orang cacat.
Konvensi Hak Anak, yang disahkan oleh PPB th. 1989 juga menyebutkan pasal-pasal yang terkait dengan tindakan non-diskriminasi, termasuk di dalamnya adalah kepada anak-anak yang cacat. Pasal-pasal yang lain juga membahas tentang Hak tumbuh kembang, yaitu bahwa setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan.
Mereka tidak boleh dikasihani tetapi dihargai sebagai manusia yang utuh
Anne Sullivan Macy, guru Helen Keller, memberi contoh yang sangat baik tentang bagaimana seharusnya kita bersikap kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, yaitu dengan TIDAK mengasihani mereka hanya karena mereka memiliki kekurangan. Saat si kecil Helen yang berusia sekitar 7 tahun makan dengan caranya sendiri yang sangat berantakan dan benar-benar jauh dari aturan sopan santun (karena sejak usia 1 tahun-an Helen sudah menderita buta dan tuli, jadi sejak itu belum ada orang yang bisa berkomunikasi dengannya dan mengajarkan tata krama) Anne Sullivan dengan tegas “mendidik” Helen dengan sangat keras. Meskipun mulanya kedua orang tua Helen keberatan dengan cara-cara Anne Sullivan, akhirnya mereka bisa menerima, bahwa mengasihani putri mereka karena cacat yang dideritanya justru tidak akan membawa kepada perubahan yang lebih baik.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Dalam sebuah kesempatan, saya sempat berbincang dengan seorang Guru SD yang mengajar siswa kelas 1. Salah seorang muridnya menderita hydrochepalus (ada cairan di dalam kepalanya). Karena anak ini berasal dari keluarga yang kurang mampu, belum ada tindakan medis atau terapi apa pun yang sudah dilakukan untuk membantunya mengatasi gangguan perkembangan tersebut. Si Guru dengan penuh kasih sayang, memberikan waktu dan kesabaran yang lebih dalam mengajar anak ini, karena ternyata daya tangkapnya tidaklah sebaik teman-teman sekelasnya, selain itu beberapa gerakan fisiknya juga mengalami gangguan. Meskipun kondisi kelas dan fasilitas yang ada jauh dari sempurna, karena sekolah ini melayani anak-anak dari golongan ekonomi menengah ke bawah (saya berada di kelas tsb selama proses pelajaran berlangsung) saya sungguh dapat merasakan suasana kelas yang menyenangkan, karena baik Guru maupun para siswa, semua menerima anak yang memiliki gangguan perkembangan tsb dengan tangan terbuka.
Salah satu contoh klasik yang sangat mengagumkan adalah riwayat hidup HELEN KELLER. Karena penyakit yang nyaris merenggut nyawanya, si kecil Helen menjadi buta dan tuli sekaligus di usianya yang belum lagi genap 2 tahun. Tak heran bila kemudian Helen bertumbuh menjadi seorang anak yang “liar” dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Sampai suatu saat, seorang guru bernama Anne Sullivan Macy datang untuk membantu dan mengajar Helen. Sejak saat itulah, kehidupan Helen Keller berubah, dari seorang gadis kecil yang hampir tidak memiliki masa depan, menjadi seorang terpelajar yang sangat terkenal, dan pengaruhnya begitu luar biasa hingga namanya saat ini diakui sebagai salah satu Tokoh Dunia yang paling berpengaruh. Helen Keller menjadi orang buta dan tuli pertama yang lulus dari perguruan tinggi (th 1900 Helen Keller lulus tes masuk Harvard University, dan 4 tahun kemudian, Helen menyelesaikan studinya dg nilai memuaskan). Helen bahkan menguasai beberapa bahasa asing seperti Jerman, Perancis, Latin, dan lainnya. Sejak muda hingga masa tuanya, Helen Keller telah berkeliling ke berbagai negara di dunia untuk menyebarkan semangat dan cita-citanya, yaitu agar masyarakat mau menerima dan menghargai orang-orang cacat.
Konvensi Hak Anak, yang disahkan oleh PPB th. 1989 juga menyebutkan pasal-pasal yang terkait dengan tindakan non-diskriminasi, termasuk di dalamnya adalah kepada anak-anak yang cacat. Pasal-pasal yang lain juga membahas tentang Hak tumbuh kembang, yaitu bahwa setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan.
Mereka tidak boleh dikasihani tetapi dihargai sebagai manusia yang utuh
Anne Sullivan Macy, guru Helen Keller, memberi contoh yang sangat baik tentang bagaimana seharusnya kita bersikap kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, yaitu dengan TIDAK mengasihani mereka hanya karena mereka memiliki kekurangan. Saat si kecil Helen yang berusia sekitar 7 tahun makan dengan caranya sendiri yang sangat berantakan dan benar-benar jauh dari aturan sopan santun (karena sejak usia 1 tahun-an Helen sudah menderita buta dan tuli, jadi sejak itu belum ada orang yang bisa berkomunikasi dengannya dan mengajarkan tata krama) Anne Sullivan dengan tegas “mendidik” Helen dengan sangat keras. Meskipun mulanya kedua orang tua Helen keberatan dengan cara-cara Anne Sullivan, akhirnya mereka bisa menerima, bahwa mengasihani putri mereka karena cacat yang dideritanya justru tidak akan membawa kepada perubahan yang lebih baik.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Belajar memiliki hati yang lebih peka
Sewaktu hari wisdua, dimana saya sibuk berfoto bersama teman-teman, tiba-tiba Papa memanggil dan mengajak saya berfoto bersama seorang pemudi yang dilihatnya sedang duduk sendirian sambil mengamati sukacita teman-temannya yang berlarian kesana kemari dengan gelak tawa riang. Si pemudi ini satu tingkat di atas saya, jadi saya kurang begitu mengenalnya, bahkan sekarang pun saya sudah lupa namanya, padahal kami cukup sering bertemu karena pernah mengambil kelas-kelas kuliah yang sama. Apa yang menarik dari pemudi ini sampai Papa saya ingin berfoto dengannya?
Papa saya bilang, dan ini sebuah pelajaran berharga buat saya di hari wisuda, “Anak ini hebat. Meskipun dia cacat dan memakai kursi roda, dia bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Papa mau kita foto dan berkenalan dengannya.”
Selama 4 tahun saya berada satu kampus dengannya, bahkan sering satu kelas, tak pernah sekali pun ada kepekaan dalam hati saya terhadap dia, betapa malunya saya. Papa saya telah mengajarkan satu hal penting, yaitu bagaimana memiliki mata hati yang bisa melihat menembus hal-hal fisik. Saya jadi teringat teman-teman pria semasa kuliah, yang dengan setia, selalu bergantian mengangkat si pemudi tsb dengan kursi rodanya naik tangga menuju ruang kuliah. Bayangkan bila kelas kami berada di lantai 4 dan tidak ada lift (dan ini benar-benar terjadi), selama bertahun-tahun teman saya ini diangkat, dibawa naik dan turun oleh teman-teman pria yang bertubuh kuat.
Saya pikir, teman-teman pria tersebut melakukan, ya, anak-anak dan orang berkebutuhan khusus umumnya sangat membutuhkan bantuan orang lain, dan ini adalah kesempatan bagi kita untuk memberikan perhatian-perhatian kecil yang bukan saja menyukakan manusia melainkan juga menyukakan hati Tuhan.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang dengan seorang Kepala Sekolah dari sebuah Sekolah Kristen. Sekolah ini pernah menerima anak-anak berkebutuhan khusus dan menempatkannya dalam kelas yang sama dengan anak-anak “normal” lainnya. Memang, beban tugas para Guru jadi lebih berat, demikian juga dengan anak-anak “normal” yang mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan kehadiran teman spesial mereka ini, yang kadang menghilang dari kelas, mengacaukan apa yang sudah dirapikan oleh seluruh anggota kelas, dan masih ada banyak kejutan-kejutan lainnya yang terjadi. TETAPI … ada berkat di balik semua hal yang seolah “mengganggu” jalannya pelajaran tsb.
Bila kita menganggap pendidikan adalah sekedar mentransfer Ilmu Pengetahuan, maka baiklah lupakan anak-anak berkebutuhan khusus. Karena mereka hampir tidak mungkin se-brillian teman-teman “normal” mereka. Tetapi bila kita menganggap pendidikan adalah sebuah proses dimana anak-anak kita belajar untuk menjalani HIDUP ini dengan lebih bijak, lebih berwawasan, lebih pandai, dan lebih terampil, maka mengijinkan mereka (baik anak-anak “normal” maupun anak-anak berkebutuhan khusus) hidup bersama-sama dalam suatu komunitas akan membawa hasil yang sangat luar biasa.
Anak-anak “normal” di kelas ini tumbuh menjadi anak-anak yang lebih mau mengerti orang lain, lebih bisa menguasai emosi dan bahkan membantu Guru untuk mengawasi maupun membantu teman mereka yang berkebutuhan khusus tsb. Perlu diingat, bahwa anak-anak yang saya ceritakan di sini adalah anak-anak BALITA. Luar biasa bukan? Menarik sekali mengetahui bahwa ada lingkungan pendidikan yang sedemikian “ramah” dan “bersahabat” bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, karena ada kebijakan baru dari pihak yayasan untuk tidak lagi menerima anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.
Sekolah Inklusi
Dalam sebuah kesempatan lain, saya berkenalan dan berbincang dengan seorang Kepala Sekolah di sebuah sekolah menengah kristen. Dia bercerita tentang salah seorang siswanya yang tunarungu (tidak dapat mendengar), sebut saja namanya Angel (bukan nama sesungguhnya). Anak-anak tunarungu, umumnya juga mengalami kesulitan bicara meskipun sebenarnya mereka tidak bisu, tetapi karena sejak bayi tidak pernah mendengar suara, mereka seringkali mengalami kesulitan belajar bicara. Angel sejauh ini bisa mengikuti pelajaran di Sekolah Reguler dengan baik, bahkan prestasi akademiknya pun sangat cemerlang. Dia juga bisa bergaul dengan teman-teman “normal”nya. Yang menarik, adalah saat Angel harus berhadapan dengan Ujian Nasional yang membutuhkan bahasa lisan. Pihak sekolah menawarkan sebuah kebijakan, mengingat Angel adalah seorang siswa tunarungu, mereka menawarkan jenis ujian tertulis untuk materi tsb. Angel dengan tegas menolak. Dia ingin diperlakukan SAMA, seperti layaknya siswa-siswa ”normal” lainnya. Jadi, dengan segala upaya dan kerja keras, Angel menjalani ujian lisannya, dan dia BERHASIL!
Ada banyak siswa lain seperti Angel, yang meskipun memiliki gangguan / keterbatasan fisik, tetap ingin hidup “normal” serta diterima apa adanya oleh lingkungan dan teman-teman mereka. Mungkin kita tidak menyadari, bahwa respons atau reaksi kita terhadap anak-anak yang berkebutuhan khusus ini SANGAT BESAR dampaknya. Bagi Angel, pihak sekolah yang menerima keberadaan dirinya, juga guru serta teman-teman yg mendukungnya, berperan sangat positif bagi kemajuan hidupnya.
Tetapi di tempat lain, ada seorang remaja lain yang menderita gangguan pendengaran (tidak tuli, tetapi membutuhkan alat bantu untuk bisa mendengar dengan baik), sebut saja namanya Jason (bukan nama sesungguhnya) tidak seberuntung Angel. Setiap kali Jason mengenakan alat bantu dengar tsb, teman-temannya justru mengolok bahkan berteriak keras-keras di dekatnya. Bukan saja hal tsb berbahaya bagi telinga Jason, tetapi respons teman-temannya tsb membuat Jason malu menggunakan alat bantu di kelas, yang tentu saja berakibat tidak baik pada prestasi akademiknya di sekolah.
Anak-anak kita, sejak dini, harus mulai diajarkan bagaimana hidup bersama dalam perbedaan. Secara khusus, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain yang memiliki keterbatasan karena gangguan perkembangan.
Sekolah Inklusi adalah salah satu model sekolah yang berusaha menciptakan lingkungan sekolah yang “ramah” bagi semua, termasuk menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus berada di kelas yang sama dengan anak-anak “normal” lainnya. Perlu diketahui, bahwa tidak semua sekolah siap menerima kehadiran anak-anak dengan kebutuhan khusus, terutama anak-anak yang memiliki gangguan perkembangan sedemikian rupa sehingga (dianggap) dapat mengganggu jalannya proses pelajaran di kelas, seperti misalnya: anak autis, anak hiperaktif, atau anak-anak yang menderita cerebral palsy. Biasanya keberatan yang diajukan oleh pihak sekolah adalah karena tidak tersedianya tenaga profesional yang memadai maupun fasilitas untuk dapat melayani anak-anak tersebut.
Bagaimana pun, tantangan bagi Sekolah Inklusi tentu lebih berat dibanding Sekolah Reguler pada umumnya. Tetapi hasil yang dicapai ternyata sangat menggembirakan bagi semua pihak. Riset membuktikan bahwa kehadiran siswa-siswa berkebutuhan khusus, ternyata tidak berdampak negatif terhadap prestasi siswa-siswa “normal” yang sekelas dengan mereka, sebagaimana yang dikuatirkan oleh banyak pihak. Justru anak-anak “normal” tsb bertumbuh menjadi orang yang lebih berwawasan, makin bijak, serta lebih terbuka. Bagi siswa-siswa yang berkebutuhan khusus, penerimaan atas diri mereka di Sekolah Inklusi bersama siswa-siswa “normal” lainnya menunjukkan pengaruh motivasi yang meningkat, yang tentu saja dibarengi dengan tingkat prestasi yang lebih tinggi serta kemajuan yang lebih pesat dibanding bila mereka berada di Sekolah Khusus.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Papa saya bilang, dan ini sebuah pelajaran berharga buat saya di hari wisuda, “Anak ini hebat. Meskipun dia cacat dan memakai kursi roda, dia bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Papa mau kita foto dan berkenalan dengannya.”
Selama 4 tahun saya berada satu kampus dengannya, bahkan sering satu kelas, tak pernah sekali pun ada kepekaan dalam hati saya terhadap dia, betapa malunya saya. Papa saya telah mengajarkan satu hal penting, yaitu bagaimana memiliki mata hati yang bisa melihat menembus hal-hal fisik. Saya jadi teringat teman-teman pria semasa kuliah, yang dengan setia, selalu bergantian mengangkat si pemudi tsb dengan kursi rodanya naik tangga menuju ruang kuliah. Bayangkan bila kelas kami berada di lantai 4 dan tidak ada lift (dan ini benar-benar terjadi), selama bertahun-tahun teman saya ini diangkat, dibawa naik dan turun oleh teman-teman pria yang bertubuh kuat.
Saya pikir, teman-teman pria tersebut melakukan, ya, anak-anak dan orang berkebutuhan khusus umumnya sangat membutuhkan bantuan orang lain, dan ini adalah kesempatan bagi kita untuk memberikan perhatian-perhatian kecil yang bukan saja menyukakan manusia melainkan juga menyukakan hati Tuhan.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang dengan seorang Kepala Sekolah dari sebuah Sekolah Kristen. Sekolah ini pernah menerima anak-anak berkebutuhan khusus dan menempatkannya dalam kelas yang sama dengan anak-anak “normal” lainnya. Memang, beban tugas para Guru jadi lebih berat, demikian juga dengan anak-anak “normal” yang mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan kehadiran teman spesial mereka ini, yang kadang menghilang dari kelas, mengacaukan apa yang sudah dirapikan oleh seluruh anggota kelas, dan masih ada banyak kejutan-kejutan lainnya yang terjadi. TETAPI … ada berkat di balik semua hal yang seolah “mengganggu” jalannya pelajaran tsb.
Bila kita menganggap pendidikan adalah sekedar mentransfer Ilmu Pengetahuan, maka baiklah lupakan anak-anak berkebutuhan khusus. Karena mereka hampir tidak mungkin se-brillian teman-teman “normal” mereka. Tetapi bila kita menganggap pendidikan adalah sebuah proses dimana anak-anak kita belajar untuk menjalani HIDUP ini dengan lebih bijak, lebih berwawasan, lebih pandai, dan lebih terampil, maka mengijinkan mereka (baik anak-anak “normal” maupun anak-anak berkebutuhan khusus) hidup bersama-sama dalam suatu komunitas akan membawa hasil yang sangat luar biasa.
Anak-anak “normal” di kelas ini tumbuh menjadi anak-anak yang lebih mau mengerti orang lain, lebih bisa menguasai emosi dan bahkan membantu Guru untuk mengawasi maupun membantu teman mereka yang berkebutuhan khusus tsb. Perlu diingat, bahwa anak-anak yang saya ceritakan di sini adalah anak-anak BALITA. Luar biasa bukan? Menarik sekali mengetahui bahwa ada lingkungan pendidikan yang sedemikian “ramah” dan “bersahabat” bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, karena ada kebijakan baru dari pihak yayasan untuk tidak lagi menerima anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.
Sekolah Inklusi
Dalam sebuah kesempatan lain, saya berkenalan dan berbincang dengan seorang Kepala Sekolah di sebuah sekolah menengah kristen. Dia bercerita tentang salah seorang siswanya yang tunarungu (tidak dapat mendengar), sebut saja namanya Angel (bukan nama sesungguhnya). Anak-anak tunarungu, umumnya juga mengalami kesulitan bicara meskipun sebenarnya mereka tidak bisu, tetapi karena sejak bayi tidak pernah mendengar suara, mereka seringkali mengalami kesulitan belajar bicara. Angel sejauh ini bisa mengikuti pelajaran di Sekolah Reguler dengan baik, bahkan prestasi akademiknya pun sangat cemerlang. Dia juga bisa bergaul dengan teman-teman “normal”nya. Yang menarik, adalah saat Angel harus berhadapan dengan Ujian Nasional yang membutuhkan bahasa lisan. Pihak sekolah menawarkan sebuah kebijakan, mengingat Angel adalah seorang siswa tunarungu, mereka menawarkan jenis ujian tertulis untuk materi tsb. Angel dengan tegas menolak. Dia ingin diperlakukan SAMA, seperti layaknya siswa-siswa ”normal” lainnya. Jadi, dengan segala upaya dan kerja keras, Angel menjalani ujian lisannya, dan dia BERHASIL!
Ada banyak siswa lain seperti Angel, yang meskipun memiliki gangguan / keterbatasan fisik, tetap ingin hidup “normal” serta diterima apa adanya oleh lingkungan dan teman-teman mereka. Mungkin kita tidak menyadari, bahwa respons atau reaksi kita terhadap anak-anak yang berkebutuhan khusus ini SANGAT BESAR dampaknya. Bagi Angel, pihak sekolah yang menerima keberadaan dirinya, juga guru serta teman-teman yg mendukungnya, berperan sangat positif bagi kemajuan hidupnya.
Tetapi di tempat lain, ada seorang remaja lain yang menderita gangguan pendengaran (tidak tuli, tetapi membutuhkan alat bantu untuk bisa mendengar dengan baik), sebut saja namanya Jason (bukan nama sesungguhnya) tidak seberuntung Angel. Setiap kali Jason mengenakan alat bantu dengar tsb, teman-temannya justru mengolok bahkan berteriak keras-keras di dekatnya. Bukan saja hal tsb berbahaya bagi telinga Jason, tetapi respons teman-temannya tsb membuat Jason malu menggunakan alat bantu di kelas, yang tentu saja berakibat tidak baik pada prestasi akademiknya di sekolah.
Anak-anak kita, sejak dini, harus mulai diajarkan bagaimana hidup bersama dalam perbedaan. Secara khusus, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain yang memiliki keterbatasan karena gangguan perkembangan.
Sekolah Inklusi adalah salah satu model sekolah yang berusaha menciptakan lingkungan sekolah yang “ramah” bagi semua, termasuk menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus berada di kelas yang sama dengan anak-anak “normal” lainnya. Perlu diketahui, bahwa tidak semua sekolah siap menerima kehadiran anak-anak dengan kebutuhan khusus, terutama anak-anak yang memiliki gangguan perkembangan sedemikian rupa sehingga (dianggap) dapat mengganggu jalannya proses pelajaran di kelas, seperti misalnya: anak autis, anak hiperaktif, atau anak-anak yang menderita cerebral palsy. Biasanya keberatan yang diajukan oleh pihak sekolah adalah karena tidak tersedianya tenaga profesional yang memadai maupun fasilitas untuk dapat melayani anak-anak tersebut.
Bagaimana pun, tantangan bagi Sekolah Inklusi tentu lebih berat dibanding Sekolah Reguler pada umumnya. Tetapi hasil yang dicapai ternyata sangat menggembirakan bagi semua pihak. Riset membuktikan bahwa kehadiran siswa-siswa berkebutuhan khusus, ternyata tidak berdampak negatif terhadap prestasi siswa-siswa “normal” yang sekelas dengan mereka, sebagaimana yang dikuatirkan oleh banyak pihak. Justru anak-anak “normal” tsb bertumbuh menjadi orang yang lebih berwawasan, makin bijak, serta lebih terbuka. Bagi siswa-siswa yang berkebutuhan khusus, penerimaan atas diri mereka di Sekolah Inklusi bersama siswa-siswa “normal” lainnya menunjukkan pengaruh motivasi yang meningkat, yang tentu saja dibarengi dengan tingkat prestasi yang lebih tinggi serta kemajuan yang lebih pesat dibanding bila mereka berada di Sekolah Khusus.
Sumber : http://indonesia-educenter.net
Anak berkebutuhan khusus di lingkungan anak “normal”: diterima atau ditolak?
Saya masih ingat betul, saat-saat mendampingi anak saya yang pertama, Hans, bersekolah. Waktu itu usia Hans 2,5 tahun dan dia berada di Kelas Pra-Playgroup. Kelasnya sangat menyenangkan, terdiri dari beberapa anak laki dan perempuan yang manis-manis, dan seorang guru yang sangat dicintai oleh anak-anak. Segala sesuatu berjalan dengan baik, hingga pada suatu hari muncullah seorang anak baru, sebut saja namanya Don (bukan nama sesungguhnya). Don bertubuh besar dan agak gemuk, dialah yang paling besar dan kuat dibanding teman-teman sekelasnya. Don tidak bisa diam, dia suka naik meja, dia juga sering menangis, marah dan mengamuk, bahkan kadang berguling di lantai serta membenturkan kepalanya ke tembok. Don belum bisa berbicara selayaknya anak seusianya. Menurut neneknya, yang selama ini mengasuh Don sejak kecil, Don didiagnosis terkena Autis taraf ringan dan sedikit Hiperaktif.
Mengamati tingkah laku Don dari balik jendela kelas, sungguh sangat mencemaskan hati banyak orang tua. Apalagi setelah beberapa anak, yang umumnya memiliki tubuh sangat kecil, telah menjadi “korban” akibat ledakan emosi Don yang salah sasaran. Beberapa anak bahkan sempat merasa takut dan tidak mau sekolah. Si guru yang kebetulan bertubuh mungil, juga harus dengan sekuat tenaga berupaya memegang Don, bahkan kadang menggendongnya, bila hal itu dapat meredakan emosi Don yang sedang meledak.
Beberapa kali saya sempat berbincang dengan nenek Don, yang setiap pagi rajin mengantar dan menunggui Don hingga kelas berakhir. Saya bisa merasakan cinta kasih serta keprihatiannya atas diri Don yang memiliki gangguan perkembangan. Saya tidak bisa banyak membantu, juga kadang tidak tahu harus berkata apa, tetapi saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Dari sini saya melihat bahwa, memiliki seorang anak dengan kebutuhan khusus, benar-benar menyita seluruh WAKTU, TENAGA, PIKIRAN, bahkan PERASAAN, disamping tentu saja, DANA yang tidak sedikit untuk berbagai pengobatan dan terapi yang harus dijalani oleh anak berkebutuhan khusus tsb. Si nenek memutuskan untuk memasukkan Don ke Sekolah Reguler karena ingin Don juga merasakan kehidupan seperti layaknya anak-anak “normal” lainnya.
Di sisi yang lain, saya juga menjadi tempat curhat (curahan hati) dari para orang tua yang merasa kehadiran Don di kelas anak-anaknya tidak pada tempatnya. Seharusnya Don berada di Sekolah Khusus, demikian kata mereka. Apalagi para orang tua yang anaknya telah menjadi “korban” tingkah laku Don, mereka memiliki berbagai bukti kuat bahwa kehadiran Don bisa merusak semangat bersekolah anak-anak lainnya, juga dalam hal keselamatan fisik anak-anak tersebut.
Sungguh dilematis bukan?
Masing-masing pihak punya kepentingan dan pergumulannya sendiri. Tetapi pada saat kepentingan dan pergumulan ini dikonfrontasikan, seringkali pihak yang harus mengalah adalah yang berada di posisi Don. Anak-anak seperti Don, harus disingkirkan, atau dalam bahasa yang lebih halus, kita mengatakan, harus memperoleh Pendidikan Khusus dan dipisahkan dari anak-anak “normal” lainnya.
Memang, ada beragam program dan terapi yang bisa membantu anak-anak ini untuk mengatasi masalah / gangguan perkembangannya. Ada terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi, dan banyak program lainnya yang akan membantu anak mengatasi masalah emosi dan perilaku. Tetapi kita mungkin lupa, bahwa yang dibutuhkan oleh Don serta anak-anak berkebutuhan khusus lainnya tidak hanya berbagai program terapi, melainkan juga perasaan untuk diterima oleh lingkungannya.
Don dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya adalah juga ANAK-ANAK seperti layaknya anak-anak kita yang “normal”. Mereka butuh lingkungan yang mendukung, dimana mereka bisa bertumbuh dan berkembang pula dengan optimal.
Segala macam bentuk usaha untuk menyingkirkan anak-anak yang memiliki gangguan perkembangan seperti Don, adalah perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Memang, akan ada resiko, akan ada usaha ekstra keras, akan ada banyak kerepotan yang bakal terjadi, bila kita mengijinkan Don hidup bersama dalam sebuah komunitas degan anak-anak kita yang “normal”. YA. Tetapi ini adalah kesempatan sekaligus hak istimewa bagi kita untuk mewujudkan Kasih Kristus dalam tindakan nyata!
Menghargai dan menerima perbedaan
Langkah sederhana yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, adalah menjelaskan kepada anak-anak kita tentang keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh anak-anak yang masih kecil, kita bisa mengatakan misalnya (dalam kasus Don di atas): Don berbeda dengan kamu. Don tidak bisa diam bukan karena dia tidak mau diam, dia memang benar-benar tidak bisa diam, tubuhnya selalu mendorong dia untuk bergerak terus. Don juga sulit untuk menuruti kata-kata Guru, mungkin dia tidak mengerti. Don suka marah dan memukul, mungkin karena dia belum bisa bicara. Jadi, saat orang lain tidak mengerti apa yang dia mau, dia sedih, dan dia bingung bagaimana membuat orang lain itu tahu apa yang diinginkannya. Mama kasihan sama Don … dia perlu banyak dibantu. Mungkin dia juga butuh teman-teman yang mau mengasihinya.
Hal sederhana lain yang bisa juga kita lakukan adalah memperlakukan Don sebagai salah seorang teman anak kita, sama seperti teman-teman lainnya. Mungkin dengan menyempatkan diri berbincang dengannya, atau bermain dengannya (bila dia mau). Binalah hubungan dan komunikasi yang baik dengan keluarga Don. Semakin kita mengenal seseorang, biasanya kita akan lebih bersimpati dan berempati. Kita jadi memiliki “kaca mata” lain untuk memandang segala fenomena permasalahan yang mungkin tampak saat itu.
Sebagai guru, kita bisa menjelaskan kepada para siswa bahwa setiap anak unik adanya. Contoh yang sangat sederhana, ada anak yang mudah sekali belajar membaca, ada yang mengalami kesulitan. Ada anak yang cepat sekali memahami soal matematika, ada juga yang benar-benar harus berjuang dalam belajar matematika. Ada anak yang fisiknya sangat lentur, pandai menari balet atau senam, ada yang seolah badannya kaku seperti robot bila harus berada di lapangan olah raga. Ini semua dialami oleh anak-anak “normal”. Sayangnya, sebagian anak-anak di dunia ini mengalami keterbatasan yang lebih serius karena gangguan perkembangan dalam diri mereka. Misalnya: anak-anak yang terlahir cacat secara fisik. Mungkin mereka tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau tidak bisa bicara. Ada juga anak yang lumpuh kakinya karena terserang penyakit atau kecelakaan. Anak-anak ini, meskipun berbeda perilaku dan cara hidupnya, adalah juga anak-anak “normal” sama seperti kalian. Mereka butuh diterima dan dikasihi, mereka adalah teman-teman kalian di sekolah ini. Merendahkan atau menghina mereka karena kekurangan / kelemahannya, sungguh merupakan tindakan yang sangat tidak terpuji.
Mengajarkan kepada anak sejak dini, baik di rumah, dan di sekolah agar mereka peka dan peduli terhadap orang-orang lain merupakan investasi yang sangat berharga bagi terbentuknya suatu komunitas yang lebih “manusiawi” di masa yang akan datang.
Belajar mengasihi anak-anak berkebutuhan khusus
Memang, menerima dan mengasihi anak-anak berkebutuhan khusus tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak keluarga, merasakan pergumulan yang luar biasa saat Tuhan mengijinkan hadirnya anak-anak berkebutuhan khusus dalam hidup mereka. Perasaan terguncang, sedih, cemas, takut, marah, dan rasa penolakan semua bercampur jadi satu, sebelum akhirnya mampu menerima dan menyesuaikan diri dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus tersebut.
Pernah seorang rekan sepelayanan bercerita kepada saya, kebetulan dia adalah seorang Guru Terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Kebanyakan anak-anak yang ditanganinya adalah anak-anak Autis. Salah seorang anak yang sedang dilayaninya memiliki saudara kembar yang “normal”, sehat, bahkan cenderung pandai dan memiliki prestasi akademik yang cemerlang di sekolah. Si Guru sangat prihatin dengan kondisi anak yang dilayaninya tersebut, karena terlihat jelas sekali orang tua dari kedua anak kembar yang sangat berbeda ini, seolah acuh dengan anak yang “kurang beruntung” ini. Setiap hari, bahkan hampir sepanjang hari, si kembar yang didiagnosis Autis hanya ditemani oleh seorang baby sitter kemana pun dia beraktivitas, baik di rumah maupun di tempat terapi. Orang tua mereka meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian kepada si kembar yang brillian. Memang, jauh lebih mudah mengasihi anak yang “normal”, apalagi yang hebat dan membanggakan orang tua, bukan? Sulit sekali bagi orang tua mana pun untuk belajar mengasihi serta menerima anak-anak yang “tidak normal” – bahkan kadang para orang tua pun merasa ragu apakah anak mereka yang “tidak normal” ini bisa mengerti atau merasakan cinta kasih yang mereka berikan.
Sumber : http://indonesia-educenter.net/index.php?option=com_content&task=view&id=147&Itemid=115
Mengamati tingkah laku Don dari balik jendela kelas, sungguh sangat mencemaskan hati banyak orang tua. Apalagi setelah beberapa anak, yang umumnya memiliki tubuh sangat kecil, telah menjadi “korban” akibat ledakan emosi Don yang salah sasaran. Beberapa anak bahkan sempat merasa takut dan tidak mau sekolah. Si guru yang kebetulan bertubuh mungil, juga harus dengan sekuat tenaga berupaya memegang Don, bahkan kadang menggendongnya, bila hal itu dapat meredakan emosi Don yang sedang meledak.
Beberapa kali saya sempat berbincang dengan nenek Don, yang setiap pagi rajin mengantar dan menunggui Don hingga kelas berakhir. Saya bisa merasakan cinta kasih serta keprihatiannya atas diri Don yang memiliki gangguan perkembangan. Saya tidak bisa banyak membantu, juga kadang tidak tahu harus berkata apa, tetapi saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Dari sini saya melihat bahwa, memiliki seorang anak dengan kebutuhan khusus, benar-benar menyita seluruh WAKTU, TENAGA, PIKIRAN, bahkan PERASAAN, disamping tentu saja, DANA yang tidak sedikit untuk berbagai pengobatan dan terapi yang harus dijalani oleh anak berkebutuhan khusus tsb. Si nenek memutuskan untuk memasukkan Don ke Sekolah Reguler karena ingin Don juga merasakan kehidupan seperti layaknya anak-anak “normal” lainnya.
Di sisi yang lain, saya juga menjadi tempat curhat (curahan hati) dari para orang tua yang merasa kehadiran Don di kelas anak-anaknya tidak pada tempatnya. Seharusnya Don berada di Sekolah Khusus, demikian kata mereka. Apalagi para orang tua yang anaknya telah menjadi “korban” tingkah laku Don, mereka memiliki berbagai bukti kuat bahwa kehadiran Don bisa merusak semangat bersekolah anak-anak lainnya, juga dalam hal keselamatan fisik anak-anak tersebut.
Sungguh dilematis bukan?
Masing-masing pihak punya kepentingan dan pergumulannya sendiri. Tetapi pada saat kepentingan dan pergumulan ini dikonfrontasikan, seringkali pihak yang harus mengalah adalah yang berada di posisi Don. Anak-anak seperti Don, harus disingkirkan, atau dalam bahasa yang lebih halus, kita mengatakan, harus memperoleh Pendidikan Khusus dan dipisahkan dari anak-anak “normal” lainnya.
Memang, ada beragam program dan terapi yang bisa membantu anak-anak ini untuk mengatasi masalah / gangguan perkembangannya. Ada terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi, dan banyak program lainnya yang akan membantu anak mengatasi masalah emosi dan perilaku. Tetapi kita mungkin lupa, bahwa yang dibutuhkan oleh Don serta anak-anak berkebutuhan khusus lainnya tidak hanya berbagai program terapi, melainkan juga perasaan untuk diterima oleh lingkungannya.
Don dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya adalah juga ANAK-ANAK seperti layaknya anak-anak kita yang “normal”. Mereka butuh lingkungan yang mendukung, dimana mereka bisa bertumbuh dan berkembang pula dengan optimal.
Segala macam bentuk usaha untuk menyingkirkan anak-anak yang memiliki gangguan perkembangan seperti Don, adalah perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Memang, akan ada resiko, akan ada usaha ekstra keras, akan ada banyak kerepotan yang bakal terjadi, bila kita mengijinkan Don hidup bersama dalam sebuah komunitas degan anak-anak kita yang “normal”. YA. Tetapi ini adalah kesempatan sekaligus hak istimewa bagi kita untuk mewujudkan Kasih Kristus dalam tindakan nyata!
Menghargai dan menerima perbedaan
Langkah sederhana yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, adalah menjelaskan kepada anak-anak kita tentang keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh anak-anak yang masih kecil, kita bisa mengatakan misalnya (dalam kasus Don di atas): Don berbeda dengan kamu. Don tidak bisa diam bukan karena dia tidak mau diam, dia memang benar-benar tidak bisa diam, tubuhnya selalu mendorong dia untuk bergerak terus. Don juga sulit untuk menuruti kata-kata Guru, mungkin dia tidak mengerti. Don suka marah dan memukul, mungkin karena dia belum bisa bicara. Jadi, saat orang lain tidak mengerti apa yang dia mau, dia sedih, dan dia bingung bagaimana membuat orang lain itu tahu apa yang diinginkannya. Mama kasihan sama Don … dia perlu banyak dibantu. Mungkin dia juga butuh teman-teman yang mau mengasihinya.
Hal sederhana lain yang bisa juga kita lakukan adalah memperlakukan Don sebagai salah seorang teman anak kita, sama seperti teman-teman lainnya. Mungkin dengan menyempatkan diri berbincang dengannya, atau bermain dengannya (bila dia mau). Binalah hubungan dan komunikasi yang baik dengan keluarga Don. Semakin kita mengenal seseorang, biasanya kita akan lebih bersimpati dan berempati. Kita jadi memiliki “kaca mata” lain untuk memandang segala fenomena permasalahan yang mungkin tampak saat itu.
Sebagai guru, kita bisa menjelaskan kepada para siswa bahwa setiap anak unik adanya. Contoh yang sangat sederhana, ada anak yang mudah sekali belajar membaca, ada yang mengalami kesulitan. Ada anak yang cepat sekali memahami soal matematika, ada juga yang benar-benar harus berjuang dalam belajar matematika. Ada anak yang fisiknya sangat lentur, pandai menari balet atau senam, ada yang seolah badannya kaku seperti robot bila harus berada di lapangan olah raga. Ini semua dialami oleh anak-anak “normal”. Sayangnya, sebagian anak-anak di dunia ini mengalami keterbatasan yang lebih serius karena gangguan perkembangan dalam diri mereka. Misalnya: anak-anak yang terlahir cacat secara fisik. Mungkin mereka tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau tidak bisa bicara. Ada juga anak yang lumpuh kakinya karena terserang penyakit atau kecelakaan. Anak-anak ini, meskipun berbeda perilaku dan cara hidupnya, adalah juga anak-anak “normal” sama seperti kalian. Mereka butuh diterima dan dikasihi, mereka adalah teman-teman kalian di sekolah ini. Merendahkan atau menghina mereka karena kekurangan / kelemahannya, sungguh merupakan tindakan yang sangat tidak terpuji.
Mengajarkan kepada anak sejak dini, baik di rumah, dan di sekolah agar mereka peka dan peduli terhadap orang-orang lain merupakan investasi yang sangat berharga bagi terbentuknya suatu komunitas yang lebih “manusiawi” di masa yang akan datang.
Belajar mengasihi anak-anak berkebutuhan khusus
Memang, menerima dan mengasihi anak-anak berkebutuhan khusus tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak keluarga, merasakan pergumulan yang luar biasa saat Tuhan mengijinkan hadirnya anak-anak berkebutuhan khusus dalam hidup mereka. Perasaan terguncang, sedih, cemas, takut, marah, dan rasa penolakan semua bercampur jadi satu, sebelum akhirnya mampu menerima dan menyesuaikan diri dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus tersebut.
Pernah seorang rekan sepelayanan bercerita kepada saya, kebetulan dia adalah seorang Guru Terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Kebanyakan anak-anak yang ditanganinya adalah anak-anak Autis. Salah seorang anak yang sedang dilayaninya memiliki saudara kembar yang “normal”, sehat, bahkan cenderung pandai dan memiliki prestasi akademik yang cemerlang di sekolah. Si Guru sangat prihatin dengan kondisi anak yang dilayaninya tersebut, karena terlihat jelas sekali orang tua dari kedua anak kembar yang sangat berbeda ini, seolah acuh dengan anak yang “kurang beruntung” ini. Setiap hari, bahkan hampir sepanjang hari, si kembar yang didiagnosis Autis hanya ditemani oleh seorang baby sitter kemana pun dia beraktivitas, baik di rumah maupun di tempat terapi. Orang tua mereka meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian kepada si kembar yang brillian. Memang, jauh lebih mudah mengasihi anak yang “normal”, apalagi yang hebat dan membanggakan orang tua, bukan? Sulit sekali bagi orang tua mana pun untuk belajar mengasihi serta menerima anak-anak yang “tidak normal” – bahkan kadang para orang tua pun merasa ragu apakah anak mereka yang “tidak normal” ini bisa mengerti atau merasakan cinta kasih yang mereka berikan.
Sumber : http://indonesia-educenter.net/index.php?option=com_content&task=view&id=147&Itemid=115
Pengalaman menyekolahkan anak “special need’
Oleh: Ibu Wiwie
Mempunyai 2 anak dimana yang sulung (Andre, 8 tahun) sering sakit karena alergi debu dan gangguan pencernaan, dan anak bungsu (Thomas, 5 tahun) penyandang ASD (Autism Spectrum Disorder), sungguh ternyata tidak mudah. Salah satu kesulitan terbesar adalah mencari sekolah yang tepat untuk Thomas.
Saya bersyukur sekali, bahwa akhirnya 6 bulan terakhir ini perkembangan di sekolah sangat besar, dibanding kondisi awalnya. Berjuang melawan autisme ibaratnya ikut lari maraton : jarak jauh (bisa bertahun-tahun) sehingga perlu persiapan, stamina dan strategi lari yang tepat, bertahap tapi konsisten. Setelah 3,5 tahun jadi peserta ‘maraton autisme’, kemajuan Thomas di sekolah menjadi reinforcement besar, obat kuat penambah semangat untuk terus ikut lari, tetap dalam barisan peserta maraton . . . walaupun garis finish belum terbayang. Jalan mungkin masih sangat panjang, tapi lebih bersemangat karena ada harapan terus, buah-buah mulai terlihat….
Tanggal 20 Mei 2003, saya, guru kelas, konsultan (acara rutin PTCC : Parent-Teacher-Consultant Conference) dan juga guru pendamping (Shadow Aid) bertemu di sekolah untuk membahas perkembangan Thomas di kelas. Hasilnya sangat menggembirakan : bantuan Shadow Aid sudah sangat minimal, hanya diperlukan saat singing time (Thomas tidak terlalu suka nyanyi bersama). Selain itu, kontrol sudah di tangan 3 guru kelasnya. Guru juga sudah berkomunikasi dengan Thomas dengan nada suara biasa dan tanpa usaha ekstra untuk menarik perhatiannya. Bila tiba-tiba dia tersadar ada perubahan aktivitas, Thomas sudah bisa bertanya pada temannya, misalnya : ’kita mau ngapain?’ atau ‘kita mau kemana?’. Dia juga tidak segan-segan untuk minta bantuan temannya bila ada kesulitan. Walaupun sedang asyik mengerjakan aktivitas kesukaannya (origami, membaca buku), Thomas akan segera bergabung dengan teman-temannya untuk melakukan aktivitas baru lainnya. Menulis sudah lebih rapi, ada spasi. Kemampuan akademis tidak menjadi masalah, bahkan sering lebih bagus/cepat selesai dari teman-temannya. Yang menjadi ‘concern’ guru 2 minggu terakhir adalah Thomas tiba-tiba suka teriak, kadang tanpa sebab yang jelas.
Kesimpulannya, Juli nanti Thomas benar-benar memenuhi syarat untuk naik ke TK B. Saat itu, tidak ada berita yang lebih menggembirakan lagi buat kami sekeluarga.
Tanggal 9 Juni saya menerima buku raportnya, dan progres Thomas lebih terlihat jelas dari kacamata sekolah. Kalau di akhir cawu I Thomas masih sangat perlu dibimbing untuk berkomunikasi dengan teman-temannya di kelas, di akhir cawu III bimbingan masih diperlukan untuk lebih memberikan fokus dan perhatian terhadap diskusi/presentasi yang diberikan secara group. Selain sudah bisa membaca buku cerita dalam bahasa Inggris dengan cukup lancar, dia juga sudah mulai mengerti penjelasan guru dalam kalimat bahasa Inggris yang cukup panjang. Kelemahan yang lain seperti menggambar, mewarnai, menggunting dan melipat sudah bisa diatasi. Kegiatan fieldtrip ke tempat2 umum (Planetarium, Kebun Binatang, Pemadam Kebakaran, dll) menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan buatnya. Yang masih menjadi kesulitan besar adalah mengikuti permainan2 olah raga atau gerak & lagu.
Semua hasil ini berkat kerja sama yang baik antara Sekolah dan Team Terapis ABA (Konsultan, Case Manager, Terapis, Shadow Teacher/Aid). Sejak Oktober 2002 tercipta kerja sama itu dalam bentuk : Observasi di kelas, pencatatan Daily Log di kelas, Shadow Aid, dan PTCC secara rutin.
Yang membuat kami terharu, guru-guru mau tahu lebih banyak tentang autis, semangat untuk ikut seminar/workshop autis, bahkan mau menerapkan apa yang mereka pelajari maupun yang disarankan oleh konsultan. Untuk mencapai tujuan, mereka juga meluangkan waktu untuk ‘playday’ khusus dengan Thomas.Waktu saya sharing di sekolah tentang makalah presentasi yang saya buat untuk eks kantor saya kerja (dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan public awareness tentang autism), hampir semua guru-guru di sekolah itu duduk selama 3 jam lebih, serius menyimak sharing. Banyak pertanyaan, cerminan rasa kepedulian mereka yang tinggi. Sungguh, di luar pengharapan saya.
Syukur pada Tuhan, perjuangan panjang mulai membuahkan hasil dan sejak pindah ke Bintaro kami dipertemukan dengan banyak orang-orang yang sangat membantu : guru-guru sekolah dan team terapis ABA yang lebih kooperatif, dan teman-teman special parent sesama peserta ‘maraton’.
Dua tahun, bahkan setahun yang lalu, hasil seperti ini sama sekali tidak terbayangkan.
Setelah menjalani terapi (ABA) selama 1.5 tahun, pada usia 3 tahun 3 bulan, kami putuskan untuk mencoba memasukkan Thomas ke play group, dengan suatu tujuan : belajar bersosialisasi (walau saat itu sebenarnya kami tidak begitu paham artinya sosialisasi).
Setelah survey beberapa sekolah dan melalui sedikit test akademis, Thomas diterima di suatu sekolah umum di Jakarta Timur yang cukup besar, satu sekolah dengan kakaknya yang masuk kelas 1 SD. Jumlah murid 35 anak dengan 2 guru, tetapi Shadow Aid diijinkan masuk ke kelas sampai Thomas dianggap bisa mandiri. Di sekolah itu hanya dia yang autis, tapi ada beberapa anak ADD atau ADHD di kelas lain.
Kami ceritakan kondisi Thomas apa adanya, dan bahwa sebenarnya masih membutuhkan banyak terapi, jadi minta diijinkan hanya bersekolah 2-3 hari dalam seminggu, sambil melihat perkembangannya. Dengan pendekatan yang baik, saya juga diijinkan untuk secara periodik merekam perkembangan Thomas di sekolah. Kepala sekolah juga sangat baik, cukup mau tahu tentang autis dengan membaca buku-buku atau makalah seminar yang saya fotocopy. Kadang mereka malah mereferensikan beberapa orang tua yang anaknya mengalami gangguan perkembangan untuk sekedar ngobrol dengan saya. Tetapi mungkin karena sibuk dengan pekerjaan, agak sulit untuk mengajak guru-guru ikut seminar/workshop tentang autis, atau untuk mengundang mereka ke rumah, walaupun mereka tertarik.
Seminggu sebelum sekolah mulai, saya drill Thomas soal makanan (karena diet Gluten dan Casein, CFGF). Dengan bantuan kakaknya, saya ajarkan untuk tidak ambil atau minta makanan orang lain. Hari pertama sekolah dia bilang ‘mau kue itu’ sambil menunjuk temannya yang bawa bekal biskuit Oreo (Oreo dulu jadi reward yang paling disukai kalau terapi). Saya jawab : ‘itu bukan punya Thomas’, dia menurut dan diam. Besoknya dia hanya melihat-lihat bekal teman-temannya sambil menelan ludah, tanpa mengucapkan apa-apa. Duh, rasanya saya yang tidak tahan….sangat tidak tega. Dengan mengingat bahwa terigu hanya akan menjadi racun/morfin buat Thomas, saya mencoba bertahan. Akhirnya sukses setelah 1 minggu, sampai sekarang dia tahu bahwa makanan tertentu dia tidak boleh makan, jadi bila ingin sesuatu dia akan tanya :’Thomas mau ini, boleh nggak?’. Di sekolah sekarang, bahkan teman-temannya yang suka dengan makanan ‘home-made’ Thomas. Kembang goyang kesukaannya, juga menjadi makanan favorit teman-teman dan guru-guru.
Setelah 2 bulan sekolah, Thomas bisa ikut ‘antri’ dengan rapi, bahkan di gereja pernah mengikuti antrian untuk menerima berkat dari pastor, dan dia tetap rapi dalam barisan sampai kembali ke tempat semula tanpa didampingi. Kemajuan yang sangat membuat kami bahagia, kalau bukan di gereja rasanya saya mau bersorak atau menangis.
Tetapi setelah itu kami jarang melihat kemajuan berarti yang lain, bahkan ilmu ‘antri’nya ikut hilang. Di kelas lebih banyak rewel dan menangis, kelihatan tersiksa terlalu lama di sekolah. Saat guru bercerita di depan dan anak-anak duduk mengelilingi guru, Tom terlihat sangat tidak betah, seringkali rewel minta keluar atau pulang. Tiap pagi sebelum masuk kelas semua murid playgroup – TK berkumpul di aula untuk melakukan beberapa aktivitas bersama (nyanyi, mendengarkan cerita, senam, dll), baru berbaris masuk ke kelasnya di lantai 2. Saat-saat itu menjadi kegiatan yang paling tidak menyenangkan buatnya, hampir tidak ada aktivitas yang dia bisa ikuti atau nikmati. Kalau sudah tidak tahan, dia rewel minta pulang, nangis atau teriak.
Saat ini kami baru tahu, dulu banyak sekali persiapan yang kurang saat memasukkan Thomas sekolah playgroup di Jakarta Timur. Pertama, walau secara akademis diatas rata-rata teman sebaya, Thomas belum dipersiapkan dengan kemampuan mengikuti aktivitas rutin sekolah maupun (transisi) belajar dalam group. Kemampuan bantu dirinya juga masih kurang, sehingga sering ngompol atau pup di kelas. Dengan keterbatasan pengetahuan kami waktu itu, tanpa sadar prioritas terapi lebih mengejar kemampuan akademis. Kedua, ekspektasi kami sebagai orang tua tidak jelas, saya hanya coba-coba dan berharap sekolah bisa membantu banyak. Ketiga, sekolah itu sebenarnya memang kurang tepat untuk kondisi Thomas : kelas terlalu besar (2 guru 35 murid) seringkali suara guru bahkan tidak terdengar oleh Thomas, ruang kelas yang terbuka dengan banyak suara-suara dari luar menjadi gangguan besar buatnya, mainan yang sama tiap hari (dalam kotak besar) juga tidak cukup kuat menarik minat dan perhatiannya, serta keterbatasan tenaga guru untuk memberi perhatian ekstra buat Thomas. Keempat, tidak ada pihak ke-3 atau profesional yang membantu menjembatani kami dan pihak sekolah. Kelima, pertimbangan keuangan (saya sudah memutuskan berhenti kerja) juga membuat kami berpikir dua kali untuk menyediakan dana lebih untuk Thomas.
Jadi dengan keterbatasan pengetahuan, terapis yang jadi shadow aid dan berada tiap hari di kelaspun, tidak tahu persis apa tugas dan tanggung jawabnya, bagaimana cara bekerja sama yang efektif dengan guru-guru, dsb. Di daerah tempat tinggal saat itu juga tidak ada teman ‘seperjuangan’ yang bisa jadi tempat bertanya, dan tidak ada bantuan dari pusat terapi tentang bagaimana cara mempersiapkan dan mengatasi masalah di sekolah.
Selain Thomas, Andrepun tidak menikmati sekolahnya. Mungkin Andre termasuk anak dengan type belajar dominan kinestetis, yang sulit menerima pelajaran dengan metode klasikal dan serius, atau mungkin karena kurang perhatian dari ibunya, prestasi belajarnya pas-pasan. Perlu 5 jam untuk mengajari PPKN menjelang EHB, belum pelajaran yang lain. Hanya pelajaran agama yang lumayan, karena bisa diajarkan dengan menarik (misalnya main drama dengannya), sehingga cepat ‘dicerna’. Setelah tiap malam bersusah payah menidurkan mereka, pagi hari juga menjadi perjuangan untuk membangunkan & memotivasi ke 2 anak saya untuk bersekolah. Ada saja alasan Andre, yang pura-pura sakitlah, yang ngantuklah…. kalau Thomas hanya nangis, teriak-teriak ‘tidak mau sekolah’.
Tahun itu juga adalah masa-masa paling berat me’manage’ beberapa macam terapi autis (ABA, Okupasi, Speech, diet CFGF, BT). Untuk bisa ketat menjalani diet CFGF, saya harus eksperimen makanan2 ‘halal’ untuk Thomas, padahal saya tidak bisa masak dan tidak suka ke dapur. Untuk sedikit mengerti Biomedical Treatment (BT), saya harus memaksa diri membaca literatur2 bahasa Inggris dengan banyak istilah medis. Sampai saat ini juga masih banyak yang tidak saya mengerti.
Hubungan dengan suami juga menjadi terganggu. Saya menjadi terlalu sensitif dan defensif, padahal kadang-kadang maksud suami hanya memberi saran atau bantuan. Karena sudah berhenti kerja, saya merasa benar-benar ‘terjebak’ di rumah, sibuk mengasihani diri sendiri, dan merasa paling malang sedunia. Syukur Tuhan memberikan suami yang dari dulu selalu berpikir positif, dialah yang selalu bisa mengingatkan saya untuk bisa bersyukur atas setiap kemajuan, walaupun sekecil apapun.
Akhirnya saya dan suami sepakat, untuk melakukan ‘sesuatu’ yang besar untuk merubah kondisi ini.
Atas rekomendasi teman baik, di bulan Maret-April 2002 Thomas ‘trial’ di sebuah playgroup di Bintaro tiap hari Selasa dan Kamis. Perjalanan panjang (4 jam pulang pergi) dari Pulo Gebang - Bintaro, tapi untungnya Thomas bisa dan menikmati terapi di mobil. Ternyata Thomas sangat suka dengan sekolah barunya, tiap hari minta sekolah ke Bintaro.
Saya dan suami ambil keputusan ‘nekat’ dalam 2 minggu : pindah rumah ke Bintaro, cari rumah kontrakan. Banyak teman terkaget-kaget, bahkan kami sendiri juga kadang tidak habis pikir dengan keputusan kami dulu. Tapi mungkin sudah jalan Tuhan.
Saya dan suami juga sepakat Andre harus mendapatkan sekolah yang bagus, sehingga saya bisa konsentrasi pada Thomas, tanpa ‘mengorbankan’ Andre. Syukurlah Andre sangat menyukai sekolah barunya, prestasinya cukup bagus tanpa saya sering ajari, dan kepercayaan dirinya meningkat pesat. Kalau dulu dia melabel dirinya hanya pintar gambar dan Thomas pintar matematika, sekarang semua pelajaran dia suka. Happy ending untuk Andre.
Untuk Thomas, awal pindah ke sekolah baru (SS), saya minta dia tetap di Kindy (play group). Pertimbangannya, walaupun usia dan kemampuan akademis cukup untuk ke TKA, tujuan utama kami adalah bisa bersosialisasi dengan teman-temannya (social mainstream). Thomas masuk Kindy tanpa shadow aid, karena guru-gurunya confidence untuk mengatasi Thomas di kelas. Saya juga percaya saja, karena melihat mereka begitu cekatan dan kelihatannya tahu persis bagaimana mengatasi Thomas saat ngambek dan bagaimana cara menjawab pertanyaan teman-teman sekelas tentang perilaku Thomas yang kadang aneh buat mereka. Dan selama trial juga terbukti Thomas menikmati dan cukup bisa mengikuti pelajaran, walaupun bi-lingual.
Setelah 2 bulan di Kindy, kami kembali bertemu guru dan kepala sekolah untuk membicarakan perkembangannya. Thomas disarankan mencoba ke TKA, karena secara akademis jauh diatas teman-temannya, sehingga setelah lebih dulu selesai mengerjakan tugas, dia selalu minta tugas tambahan atau mengganggu teman-teman dengan perilakunya.
Akhirnya naiklah Thomas ke TKA dan masalah akademis cukup teratasi. Teman-teman barunya yang mungkin karena lebih dewasa daripada di Kindy, ternyata lebih bisa menerima, menyayangi dan sangat memperhatikan Thomas. Pada akhirnya peranan mereka memang sangat besar, karena mulai Januari 2003, ‘social influence’ dari mereka sangat besar buat Thomas. Untuk mengatasi kelemahan Thomas (misalnya naik lift dan takut suara keras) bahkan berhasil dengan mengikut sertakan mereka dalam outdoor terapi dan playday.
Kesediaan sekolah SS untuk menerima dan membantu Thomas sangat besar, tetapi ‘skill’ mereka untuk mengatasi special need masih terbatas, bahkan Thomas murid spesial satu-satunya. Masalah tersebut terlihat saat konsultan ABA bisa menjalin kerjasama dengan sekolah. Aktivitas Thomas di kelas direkam selama 1 minggu dengan camcorder, dan dianalisa. Walaupun jauh lebih baik dibanding di sekolah lama, ternyata masih banyak perilaku Thomas yang ‘inappropriate’, tidur-tiduran di lantai sementara teman-temannya bernyanyi, pipis/pup di kelas, tertawa sendiri, sering bengong, dll. Interaksi dengan guru maupun teman juga sangat minim. Sebenarnya, kalau tidak ada intervensi pihak ke –3, saya sudah jauh lebih puas melihat kemajuan Thomas sejak sekolah di SS. Yang paling terlihat, dia sangat suka sekolah barunya, dan saya percaya kalau anak-anak belajar dengan senang, pasti banyak yang dia bisa pelajari.
Untungnya, guru-guru di SS sangat rendah hati sekaligus semangat tinggi untuk membantu Thomas: saran untuk ada Shadow Aid di kelas diterima. Berdasarkan hasil observasi dan pertemuan rutin dengan guru-guru, di rumah dibuatkan program-program sekolah (school program) yang didesain khusus untuk mendukung perkembangan di kelas. Salah satunya pernah diterapkan 5-10 menit pelajaran tambahan sebelum masuk kelas, khusus untuk pelajaran baru yang Thomas belum tahu, supaya dia confidence di kelas. Tapi setelah ‘social influence’ mulai kuat (hal yang sangat menggembirakan, karena berarti Thomas mulai ‘keluar’ dari dunia autisnya), program ini distop karena Thomas tidak ‘nyaman’ lagi berada sendiri di kelas, sementara teman-temannya masih main di luar. Yang terjadi dia ajak temannya masuk ke kelas, atau dia nyusul main ke playground.
Sebisa mungkin pelajaran baru yang akan diberikan, diinformasikan dulu oleh guru, untuk kami ajarkan dulu di rumah. Kalaupun ada yang terlewat, pelajaran-pelajaran itu diulang lagi di rumah sampai Thomas bisa, tetap dengan suasana seperti di kelas. Ruang keluarga di lantai atas bahkan diatur mirip dengan suasana kelasnya, kadang-kadang kami undang teman sekelasnya untuk main ‘sekolah-sekolahan’ di rumah. Secara periodik ada observasi di sekolah, pertemuan dengan guru dan konsultan (PTCC), dan playday baik dengan teman sekelas maupun dengan gurunya.
Program-program terapi ABA dirancang ulang dengan prioritas mengatasi kelemahan utama Thomas, misalnya Attending Skill dan Social Skill, untuk meningkatkan interaksi dengan teman-teman dan gurunya di sekolah. Kalau sebelumnya dia selalu minta bantuan shadow aid-nya, pelan-pelan diarahkan untuk minta bantuan guru. Setelah beberapa lama mulai biasa berinteraksi dengan guru, secara bertahap mulai dipindahkan ke teman sekelas. Jadi kalau ada yang tidak jelas, atau dia ketinggalan ‘berita’ dari guru, Thomas diarahkan untuk bertanya pada teman terdekatnya.
Entah karena memang kurang suka nyanyi atau ada hubungannya dengan masalah sensory, Thomas sulit sekali mengikuti aktivitas nyanyi bersama di kelas, walau bisa bernyanyi sendiri dengan cukup keras dan bagus untuk beberapa lagu yang dia suka. Sampai sekarang ‘nyanyi bersama’ masih menjadi salah satu program terapi di rumah, kadang-kadang dengan mengundang teman sekelas atau salah satu gurunya. Pada acara performance akhir cawu I, sementara teman-temannya bernyanyi bersama, Thomas masih asyik sendiri, kadang keluar dari kelompoknya. Pada acara Idul Fitri & Natal bersama, karena masih sulit dengan aktivitas kelompok, Thomas diminta membaca puisi ‘Christmas Day’ sendirian, cukup berhasil dengan latihan intensif selama 2 minggu. Dan di akhir cawu III, Thomas sudah bisa ikut acara gerak & lagu (Makarena) dalam kelompok. Dia selalu berusaha mengikuti gerakan teman-temannya, walau kadang-kadang masih ketinggalan dan sedikit dibantu shadow aid.
Kemajuan yang luar biasa menggembirakan kami, karena di awal cawu I Thomas masih sangat tenggelam di dunia sendiri. Sampai sekarang shadow aid masih berada di kelas, tetapi selain membantu dalam aktivitas nyanyi bersama atau mendampingi acara-acara fieldtrip, tugas selebihnya hanya mencatat daily log dan memastikan Thomas makin mandiri.
Begitulah sharing saya tentang pengalaman pribadi menyekolahkan Thomas. Buat kami sekeluarga semua hal di atas adalah kemajuan besar, sesuatu yang sangat patut disyukuri. Tetapi mungkin, bahkan pasti, tidak sama dengan keluarga lain, karena memang kondisi awal anak berbeda-beda. Sudah pasti cara penanganan yang paling tepat untuk tiap anak pasti berbeda. Yang mestinya sama bahwa pengaruhnya sangat besar untuk kemajuan tiap anak adalah komunikasi dan kerja sama yang baik dengan suami/istri.
Bila pengalaman diatas saya rangkum jadi satu, jadilah variabel-variabel yang menurut saya harus benar-benar direncanakan, dipersiapkan dan dipertimbangkan untuk mencapai hasil terbaik di sekolah, khususnya buat anak-anak dengan special need :
1. Kesiapan anak (sebagian besar bisa diperoleh dari terapi ABA, Speech, dan
Okupasi):
• Kemampuan bantu diri
• Kemampuan akademis yang cukup
• Kemampuan bersosialisasi
• Komunikasi fungsional
• Transisi belajar dalam group dan melakukan kegiatan rutin
• Masalah lain (sensory, Fine/Gross Motor, Medical, Diet, dll)
2. Kesiapan orang tua :
• Ekspektasi / pengharapan yang jelas dan realistis
• Mental, fisik, knowledge dan skill
• Kerja sama / kesepakatan untuk mengusahakan yang terbaik, termasuk dana
ekstra untuk pendidikan, SDM, dan materi-materi pendukung
• Manajemen dengan kebutuhan lain (sibling & anggota keluarga lain, nafkah, dll)
3. Kesiapan / kecocokan sekolah :
• Sumber Daya Manusia (knowlegde, skill, attitude)
• Fisik (bangunan, tata ruang kelas, mainan, dll)
• Metode pengajaran, materi, misi sekolah
4. Bantuan Pihak ke-3 (profesional) :
• Behaviorist (terapis, konsultan), terapist okupasi, speech, dll
• Dokter, Psikiater, Clinical Psi.
5. Bantuan Tuhan, Sang Pemilik Sejati dari ‘special child’, untuk memberikan pada
kita :
• Kebijaksanaan untuk mengambil keputusan dengan tepat
• Bimbingan dan petunjuk untuk mempersiapkan no 1 s/d 4 di atas
• Ketaatan dan kekuatan untuk tetap menjalankan tugas sebagai ‘special
parent’
• Iman bahwa Dia maha tahu dan pasti memberikan yang terbaik buat kita
• Kerendahan hati bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung yang paling
Tepat
Buat kami, jalan mungkin masih panjang, bahkan masih banyak PR di luar masalah sekolahnya. Saat ini kami juga belum tahu SD mana yang paling tepat untuk Thomas nanti, tapi pengalaman di atas sangat menguatkan hati. Harapan kami tahun depan, selain bisa mendapatkan SD yang tepat (tidak harus besar, megah atau hebat), Thomas juga sudah jauh lebih mandiri, terapi-terapi jauh berkurang, dan kami mulai bisa kembali hidup ‘normal’. Tentunya hidup kami akan lebih ‘kaya dan bermakna’, karena Tuhan memberi kami kepercayaan dan pengalaman ‘spesial’ membesarkan special child.
Sumber : http://puterakembara.org/rm/Sharing.shtml
Mempunyai 2 anak dimana yang sulung (Andre, 8 tahun) sering sakit karena alergi debu dan gangguan pencernaan, dan anak bungsu (Thomas, 5 tahun) penyandang ASD (Autism Spectrum Disorder), sungguh ternyata tidak mudah. Salah satu kesulitan terbesar adalah mencari sekolah yang tepat untuk Thomas.
Saya bersyukur sekali, bahwa akhirnya 6 bulan terakhir ini perkembangan di sekolah sangat besar, dibanding kondisi awalnya. Berjuang melawan autisme ibaratnya ikut lari maraton : jarak jauh (bisa bertahun-tahun) sehingga perlu persiapan, stamina dan strategi lari yang tepat, bertahap tapi konsisten. Setelah 3,5 tahun jadi peserta ‘maraton autisme’, kemajuan Thomas di sekolah menjadi reinforcement besar, obat kuat penambah semangat untuk terus ikut lari, tetap dalam barisan peserta maraton . . . walaupun garis finish belum terbayang. Jalan mungkin masih sangat panjang, tapi lebih bersemangat karena ada harapan terus, buah-buah mulai terlihat….
Tanggal 20 Mei 2003, saya, guru kelas, konsultan (acara rutin PTCC : Parent-Teacher-Consultant Conference) dan juga guru pendamping (Shadow Aid) bertemu di sekolah untuk membahas perkembangan Thomas di kelas. Hasilnya sangat menggembirakan : bantuan Shadow Aid sudah sangat minimal, hanya diperlukan saat singing time (Thomas tidak terlalu suka nyanyi bersama). Selain itu, kontrol sudah di tangan 3 guru kelasnya. Guru juga sudah berkomunikasi dengan Thomas dengan nada suara biasa dan tanpa usaha ekstra untuk menarik perhatiannya. Bila tiba-tiba dia tersadar ada perubahan aktivitas, Thomas sudah bisa bertanya pada temannya, misalnya : ’kita mau ngapain?’ atau ‘kita mau kemana?’. Dia juga tidak segan-segan untuk minta bantuan temannya bila ada kesulitan. Walaupun sedang asyik mengerjakan aktivitas kesukaannya (origami, membaca buku), Thomas akan segera bergabung dengan teman-temannya untuk melakukan aktivitas baru lainnya. Menulis sudah lebih rapi, ada spasi. Kemampuan akademis tidak menjadi masalah, bahkan sering lebih bagus/cepat selesai dari teman-temannya. Yang menjadi ‘concern’ guru 2 minggu terakhir adalah Thomas tiba-tiba suka teriak, kadang tanpa sebab yang jelas.
Kesimpulannya, Juli nanti Thomas benar-benar memenuhi syarat untuk naik ke TK B. Saat itu, tidak ada berita yang lebih menggembirakan lagi buat kami sekeluarga.
Tanggal 9 Juni saya menerima buku raportnya, dan progres Thomas lebih terlihat jelas dari kacamata sekolah. Kalau di akhir cawu I Thomas masih sangat perlu dibimbing untuk berkomunikasi dengan teman-temannya di kelas, di akhir cawu III bimbingan masih diperlukan untuk lebih memberikan fokus dan perhatian terhadap diskusi/presentasi yang diberikan secara group. Selain sudah bisa membaca buku cerita dalam bahasa Inggris dengan cukup lancar, dia juga sudah mulai mengerti penjelasan guru dalam kalimat bahasa Inggris yang cukup panjang. Kelemahan yang lain seperti menggambar, mewarnai, menggunting dan melipat sudah bisa diatasi. Kegiatan fieldtrip ke tempat2 umum (Planetarium, Kebun Binatang, Pemadam Kebakaran, dll) menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan buatnya. Yang masih menjadi kesulitan besar adalah mengikuti permainan2 olah raga atau gerak & lagu.
Semua hasil ini berkat kerja sama yang baik antara Sekolah dan Team Terapis ABA (Konsultan, Case Manager, Terapis, Shadow Teacher/Aid). Sejak Oktober 2002 tercipta kerja sama itu dalam bentuk : Observasi di kelas, pencatatan Daily Log di kelas, Shadow Aid, dan PTCC secara rutin.
Yang membuat kami terharu, guru-guru mau tahu lebih banyak tentang autis, semangat untuk ikut seminar/workshop autis, bahkan mau menerapkan apa yang mereka pelajari maupun yang disarankan oleh konsultan. Untuk mencapai tujuan, mereka juga meluangkan waktu untuk ‘playday’ khusus dengan Thomas.Waktu saya sharing di sekolah tentang makalah presentasi yang saya buat untuk eks kantor saya kerja (dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan public awareness tentang autism), hampir semua guru-guru di sekolah itu duduk selama 3 jam lebih, serius menyimak sharing. Banyak pertanyaan, cerminan rasa kepedulian mereka yang tinggi. Sungguh, di luar pengharapan saya.
Syukur pada Tuhan, perjuangan panjang mulai membuahkan hasil dan sejak pindah ke Bintaro kami dipertemukan dengan banyak orang-orang yang sangat membantu : guru-guru sekolah dan team terapis ABA yang lebih kooperatif, dan teman-teman special parent sesama peserta ‘maraton’.
Dua tahun, bahkan setahun yang lalu, hasil seperti ini sama sekali tidak terbayangkan.
Setelah menjalani terapi (ABA) selama 1.5 tahun, pada usia 3 tahun 3 bulan, kami putuskan untuk mencoba memasukkan Thomas ke play group, dengan suatu tujuan : belajar bersosialisasi (walau saat itu sebenarnya kami tidak begitu paham artinya sosialisasi).
Setelah survey beberapa sekolah dan melalui sedikit test akademis, Thomas diterima di suatu sekolah umum di Jakarta Timur yang cukup besar, satu sekolah dengan kakaknya yang masuk kelas 1 SD. Jumlah murid 35 anak dengan 2 guru, tetapi Shadow Aid diijinkan masuk ke kelas sampai Thomas dianggap bisa mandiri. Di sekolah itu hanya dia yang autis, tapi ada beberapa anak ADD atau ADHD di kelas lain.
Kami ceritakan kondisi Thomas apa adanya, dan bahwa sebenarnya masih membutuhkan banyak terapi, jadi minta diijinkan hanya bersekolah 2-3 hari dalam seminggu, sambil melihat perkembangannya. Dengan pendekatan yang baik, saya juga diijinkan untuk secara periodik merekam perkembangan Thomas di sekolah. Kepala sekolah juga sangat baik, cukup mau tahu tentang autis dengan membaca buku-buku atau makalah seminar yang saya fotocopy. Kadang mereka malah mereferensikan beberapa orang tua yang anaknya mengalami gangguan perkembangan untuk sekedar ngobrol dengan saya. Tetapi mungkin karena sibuk dengan pekerjaan, agak sulit untuk mengajak guru-guru ikut seminar/workshop tentang autis, atau untuk mengundang mereka ke rumah, walaupun mereka tertarik.
Seminggu sebelum sekolah mulai, saya drill Thomas soal makanan (karena diet Gluten dan Casein, CFGF). Dengan bantuan kakaknya, saya ajarkan untuk tidak ambil atau minta makanan orang lain. Hari pertama sekolah dia bilang ‘mau kue itu’ sambil menunjuk temannya yang bawa bekal biskuit Oreo (Oreo dulu jadi reward yang paling disukai kalau terapi). Saya jawab : ‘itu bukan punya Thomas’, dia menurut dan diam. Besoknya dia hanya melihat-lihat bekal teman-temannya sambil menelan ludah, tanpa mengucapkan apa-apa. Duh, rasanya saya yang tidak tahan….sangat tidak tega. Dengan mengingat bahwa terigu hanya akan menjadi racun/morfin buat Thomas, saya mencoba bertahan. Akhirnya sukses setelah 1 minggu, sampai sekarang dia tahu bahwa makanan tertentu dia tidak boleh makan, jadi bila ingin sesuatu dia akan tanya :’Thomas mau ini, boleh nggak?’. Di sekolah sekarang, bahkan teman-temannya yang suka dengan makanan ‘home-made’ Thomas. Kembang goyang kesukaannya, juga menjadi makanan favorit teman-teman dan guru-guru.
Setelah 2 bulan sekolah, Thomas bisa ikut ‘antri’ dengan rapi, bahkan di gereja pernah mengikuti antrian untuk menerima berkat dari pastor, dan dia tetap rapi dalam barisan sampai kembali ke tempat semula tanpa didampingi. Kemajuan yang sangat membuat kami bahagia, kalau bukan di gereja rasanya saya mau bersorak atau menangis.
Tetapi setelah itu kami jarang melihat kemajuan berarti yang lain, bahkan ilmu ‘antri’nya ikut hilang. Di kelas lebih banyak rewel dan menangis, kelihatan tersiksa terlalu lama di sekolah. Saat guru bercerita di depan dan anak-anak duduk mengelilingi guru, Tom terlihat sangat tidak betah, seringkali rewel minta keluar atau pulang. Tiap pagi sebelum masuk kelas semua murid playgroup – TK berkumpul di aula untuk melakukan beberapa aktivitas bersama (nyanyi, mendengarkan cerita, senam, dll), baru berbaris masuk ke kelasnya di lantai 2. Saat-saat itu menjadi kegiatan yang paling tidak menyenangkan buatnya, hampir tidak ada aktivitas yang dia bisa ikuti atau nikmati. Kalau sudah tidak tahan, dia rewel minta pulang, nangis atau teriak.
Saat ini kami baru tahu, dulu banyak sekali persiapan yang kurang saat memasukkan Thomas sekolah playgroup di Jakarta Timur. Pertama, walau secara akademis diatas rata-rata teman sebaya, Thomas belum dipersiapkan dengan kemampuan mengikuti aktivitas rutin sekolah maupun (transisi) belajar dalam group. Kemampuan bantu dirinya juga masih kurang, sehingga sering ngompol atau pup di kelas. Dengan keterbatasan pengetahuan kami waktu itu, tanpa sadar prioritas terapi lebih mengejar kemampuan akademis. Kedua, ekspektasi kami sebagai orang tua tidak jelas, saya hanya coba-coba dan berharap sekolah bisa membantu banyak. Ketiga, sekolah itu sebenarnya memang kurang tepat untuk kondisi Thomas : kelas terlalu besar (2 guru 35 murid) seringkali suara guru bahkan tidak terdengar oleh Thomas, ruang kelas yang terbuka dengan banyak suara-suara dari luar menjadi gangguan besar buatnya, mainan yang sama tiap hari (dalam kotak besar) juga tidak cukup kuat menarik minat dan perhatiannya, serta keterbatasan tenaga guru untuk memberi perhatian ekstra buat Thomas. Keempat, tidak ada pihak ke-3 atau profesional yang membantu menjembatani kami dan pihak sekolah. Kelima, pertimbangan keuangan (saya sudah memutuskan berhenti kerja) juga membuat kami berpikir dua kali untuk menyediakan dana lebih untuk Thomas.
Jadi dengan keterbatasan pengetahuan, terapis yang jadi shadow aid dan berada tiap hari di kelaspun, tidak tahu persis apa tugas dan tanggung jawabnya, bagaimana cara bekerja sama yang efektif dengan guru-guru, dsb. Di daerah tempat tinggal saat itu juga tidak ada teman ‘seperjuangan’ yang bisa jadi tempat bertanya, dan tidak ada bantuan dari pusat terapi tentang bagaimana cara mempersiapkan dan mengatasi masalah di sekolah.
Selain Thomas, Andrepun tidak menikmati sekolahnya. Mungkin Andre termasuk anak dengan type belajar dominan kinestetis, yang sulit menerima pelajaran dengan metode klasikal dan serius, atau mungkin karena kurang perhatian dari ibunya, prestasi belajarnya pas-pasan. Perlu 5 jam untuk mengajari PPKN menjelang EHB, belum pelajaran yang lain. Hanya pelajaran agama yang lumayan, karena bisa diajarkan dengan menarik (misalnya main drama dengannya), sehingga cepat ‘dicerna’. Setelah tiap malam bersusah payah menidurkan mereka, pagi hari juga menjadi perjuangan untuk membangunkan & memotivasi ke 2 anak saya untuk bersekolah. Ada saja alasan Andre, yang pura-pura sakitlah, yang ngantuklah…. kalau Thomas hanya nangis, teriak-teriak ‘tidak mau sekolah’.
Tahun itu juga adalah masa-masa paling berat me’manage’ beberapa macam terapi autis (ABA, Okupasi, Speech, diet CFGF, BT). Untuk bisa ketat menjalani diet CFGF, saya harus eksperimen makanan2 ‘halal’ untuk Thomas, padahal saya tidak bisa masak dan tidak suka ke dapur. Untuk sedikit mengerti Biomedical Treatment (BT), saya harus memaksa diri membaca literatur2 bahasa Inggris dengan banyak istilah medis. Sampai saat ini juga masih banyak yang tidak saya mengerti.
Hubungan dengan suami juga menjadi terganggu. Saya menjadi terlalu sensitif dan defensif, padahal kadang-kadang maksud suami hanya memberi saran atau bantuan. Karena sudah berhenti kerja, saya merasa benar-benar ‘terjebak’ di rumah, sibuk mengasihani diri sendiri, dan merasa paling malang sedunia. Syukur Tuhan memberikan suami yang dari dulu selalu berpikir positif, dialah yang selalu bisa mengingatkan saya untuk bisa bersyukur atas setiap kemajuan, walaupun sekecil apapun.
Akhirnya saya dan suami sepakat, untuk melakukan ‘sesuatu’ yang besar untuk merubah kondisi ini.
Atas rekomendasi teman baik, di bulan Maret-April 2002 Thomas ‘trial’ di sebuah playgroup di Bintaro tiap hari Selasa dan Kamis. Perjalanan panjang (4 jam pulang pergi) dari Pulo Gebang - Bintaro, tapi untungnya Thomas bisa dan menikmati terapi di mobil. Ternyata Thomas sangat suka dengan sekolah barunya, tiap hari minta sekolah ke Bintaro.
Saya dan suami ambil keputusan ‘nekat’ dalam 2 minggu : pindah rumah ke Bintaro, cari rumah kontrakan. Banyak teman terkaget-kaget, bahkan kami sendiri juga kadang tidak habis pikir dengan keputusan kami dulu. Tapi mungkin sudah jalan Tuhan.
Saya dan suami juga sepakat Andre harus mendapatkan sekolah yang bagus, sehingga saya bisa konsentrasi pada Thomas, tanpa ‘mengorbankan’ Andre. Syukurlah Andre sangat menyukai sekolah barunya, prestasinya cukup bagus tanpa saya sering ajari, dan kepercayaan dirinya meningkat pesat. Kalau dulu dia melabel dirinya hanya pintar gambar dan Thomas pintar matematika, sekarang semua pelajaran dia suka. Happy ending untuk Andre.
Untuk Thomas, awal pindah ke sekolah baru (SS), saya minta dia tetap di Kindy (play group). Pertimbangannya, walaupun usia dan kemampuan akademis cukup untuk ke TKA, tujuan utama kami adalah bisa bersosialisasi dengan teman-temannya (social mainstream). Thomas masuk Kindy tanpa shadow aid, karena guru-gurunya confidence untuk mengatasi Thomas di kelas. Saya juga percaya saja, karena melihat mereka begitu cekatan dan kelihatannya tahu persis bagaimana mengatasi Thomas saat ngambek dan bagaimana cara menjawab pertanyaan teman-teman sekelas tentang perilaku Thomas yang kadang aneh buat mereka. Dan selama trial juga terbukti Thomas menikmati dan cukup bisa mengikuti pelajaran, walaupun bi-lingual.
Setelah 2 bulan di Kindy, kami kembali bertemu guru dan kepala sekolah untuk membicarakan perkembangannya. Thomas disarankan mencoba ke TKA, karena secara akademis jauh diatas teman-temannya, sehingga setelah lebih dulu selesai mengerjakan tugas, dia selalu minta tugas tambahan atau mengganggu teman-teman dengan perilakunya.
Akhirnya naiklah Thomas ke TKA dan masalah akademis cukup teratasi. Teman-teman barunya yang mungkin karena lebih dewasa daripada di Kindy, ternyata lebih bisa menerima, menyayangi dan sangat memperhatikan Thomas. Pada akhirnya peranan mereka memang sangat besar, karena mulai Januari 2003, ‘social influence’ dari mereka sangat besar buat Thomas. Untuk mengatasi kelemahan Thomas (misalnya naik lift dan takut suara keras) bahkan berhasil dengan mengikut sertakan mereka dalam outdoor terapi dan playday.
Kesediaan sekolah SS untuk menerima dan membantu Thomas sangat besar, tetapi ‘skill’ mereka untuk mengatasi special need masih terbatas, bahkan Thomas murid spesial satu-satunya. Masalah tersebut terlihat saat konsultan ABA bisa menjalin kerjasama dengan sekolah. Aktivitas Thomas di kelas direkam selama 1 minggu dengan camcorder, dan dianalisa. Walaupun jauh lebih baik dibanding di sekolah lama, ternyata masih banyak perilaku Thomas yang ‘inappropriate’, tidur-tiduran di lantai sementara teman-temannya bernyanyi, pipis/pup di kelas, tertawa sendiri, sering bengong, dll. Interaksi dengan guru maupun teman juga sangat minim. Sebenarnya, kalau tidak ada intervensi pihak ke –3, saya sudah jauh lebih puas melihat kemajuan Thomas sejak sekolah di SS. Yang paling terlihat, dia sangat suka sekolah barunya, dan saya percaya kalau anak-anak belajar dengan senang, pasti banyak yang dia bisa pelajari.
Untungnya, guru-guru di SS sangat rendah hati sekaligus semangat tinggi untuk membantu Thomas: saran untuk ada Shadow Aid di kelas diterima. Berdasarkan hasil observasi dan pertemuan rutin dengan guru-guru, di rumah dibuatkan program-program sekolah (school program) yang didesain khusus untuk mendukung perkembangan di kelas. Salah satunya pernah diterapkan 5-10 menit pelajaran tambahan sebelum masuk kelas, khusus untuk pelajaran baru yang Thomas belum tahu, supaya dia confidence di kelas. Tapi setelah ‘social influence’ mulai kuat (hal yang sangat menggembirakan, karena berarti Thomas mulai ‘keluar’ dari dunia autisnya), program ini distop karena Thomas tidak ‘nyaman’ lagi berada sendiri di kelas, sementara teman-temannya masih main di luar. Yang terjadi dia ajak temannya masuk ke kelas, atau dia nyusul main ke playground.
Sebisa mungkin pelajaran baru yang akan diberikan, diinformasikan dulu oleh guru, untuk kami ajarkan dulu di rumah. Kalaupun ada yang terlewat, pelajaran-pelajaran itu diulang lagi di rumah sampai Thomas bisa, tetap dengan suasana seperti di kelas. Ruang keluarga di lantai atas bahkan diatur mirip dengan suasana kelasnya, kadang-kadang kami undang teman sekelasnya untuk main ‘sekolah-sekolahan’ di rumah. Secara periodik ada observasi di sekolah, pertemuan dengan guru dan konsultan (PTCC), dan playday baik dengan teman sekelas maupun dengan gurunya.
Program-program terapi ABA dirancang ulang dengan prioritas mengatasi kelemahan utama Thomas, misalnya Attending Skill dan Social Skill, untuk meningkatkan interaksi dengan teman-teman dan gurunya di sekolah. Kalau sebelumnya dia selalu minta bantuan shadow aid-nya, pelan-pelan diarahkan untuk minta bantuan guru. Setelah beberapa lama mulai biasa berinteraksi dengan guru, secara bertahap mulai dipindahkan ke teman sekelas. Jadi kalau ada yang tidak jelas, atau dia ketinggalan ‘berita’ dari guru, Thomas diarahkan untuk bertanya pada teman terdekatnya.
Entah karena memang kurang suka nyanyi atau ada hubungannya dengan masalah sensory, Thomas sulit sekali mengikuti aktivitas nyanyi bersama di kelas, walau bisa bernyanyi sendiri dengan cukup keras dan bagus untuk beberapa lagu yang dia suka. Sampai sekarang ‘nyanyi bersama’ masih menjadi salah satu program terapi di rumah, kadang-kadang dengan mengundang teman sekelas atau salah satu gurunya. Pada acara performance akhir cawu I, sementara teman-temannya bernyanyi bersama, Thomas masih asyik sendiri, kadang keluar dari kelompoknya. Pada acara Idul Fitri & Natal bersama, karena masih sulit dengan aktivitas kelompok, Thomas diminta membaca puisi ‘Christmas Day’ sendirian, cukup berhasil dengan latihan intensif selama 2 minggu. Dan di akhir cawu III, Thomas sudah bisa ikut acara gerak & lagu (Makarena) dalam kelompok. Dia selalu berusaha mengikuti gerakan teman-temannya, walau kadang-kadang masih ketinggalan dan sedikit dibantu shadow aid.
Kemajuan yang luar biasa menggembirakan kami, karena di awal cawu I Thomas masih sangat tenggelam di dunia sendiri. Sampai sekarang shadow aid masih berada di kelas, tetapi selain membantu dalam aktivitas nyanyi bersama atau mendampingi acara-acara fieldtrip, tugas selebihnya hanya mencatat daily log dan memastikan Thomas makin mandiri.
Begitulah sharing saya tentang pengalaman pribadi menyekolahkan Thomas. Buat kami sekeluarga semua hal di atas adalah kemajuan besar, sesuatu yang sangat patut disyukuri. Tetapi mungkin, bahkan pasti, tidak sama dengan keluarga lain, karena memang kondisi awal anak berbeda-beda. Sudah pasti cara penanganan yang paling tepat untuk tiap anak pasti berbeda. Yang mestinya sama bahwa pengaruhnya sangat besar untuk kemajuan tiap anak adalah komunikasi dan kerja sama yang baik dengan suami/istri.
Bila pengalaman diatas saya rangkum jadi satu, jadilah variabel-variabel yang menurut saya harus benar-benar direncanakan, dipersiapkan dan dipertimbangkan untuk mencapai hasil terbaik di sekolah, khususnya buat anak-anak dengan special need :
1. Kesiapan anak (sebagian besar bisa diperoleh dari terapi ABA, Speech, dan
Okupasi):
• Kemampuan bantu diri
• Kemampuan akademis yang cukup
• Kemampuan bersosialisasi
• Komunikasi fungsional
• Transisi belajar dalam group dan melakukan kegiatan rutin
• Masalah lain (sensory, Fine/Gross Motor, Medical, Diet, dll)
2. Kesiapan orang tua :
• Ekspektasi / pengharapan yang jelas dan realistis
• Mental, fisik, knowledge dan skill
• Kerja sama / kesepakatan untuk mengusahakan yang terbaik, termasuk dana
ekstra untuk pendidikan, SDM, dan materi-materi pendukung
• Manajemen dengan kebutuhan lain (sibling & anggota keluarga lain, nafkah, dll)
3. Kesiapan / kecocokan sekolah :
• Sumber Daya Manusia (knowlegde, skill, attitude)
• Fisik (bangunan, tata ruang kelas, mainan, dll)
• Metode pengajaran, materi, misi sekolah
4. Bantuan Pihak ke-3 (profesional) :
• Behaviorist (terapis, konsultan), terapist okupasi, speech, dll
• Dokter, Psikiater, Clinical Psi.
5. Bantuan Tuhan, Sang Pemilik Sejati dari ‘special child’, untuk memberikan pada
kita :
• Kebijaksanaan untuk mengambil keputusan dengan tepat
• Bimbingan dan petunjuk untuk mempersiapkan no 1 s/d 4 di atas
• Ketaatan dan kekuatan untuk tetap menjalankan tugas sebagai ‘special
parent’
• Iman bahwa Dia maha tahu dan pasti memberikan yang terbaik buat kita
• Kerendahan hati bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung yang paling
Tepat
Buat kami, jalan mungkin masih panjang, bahkan masih banyak PR di luar masalah sekolahnya. Saat ini kami juga belum tahu SD mana yang paling tepat untuk Thomas nanti, tapi pengalaman di atas sangat menguatkan hati. Harapan kami tahun depan, selain bisa mendapatkan SD yang tepat (tidak harus besar, megah atau hebat), Thomas juga sudah jauh lebih mandiri, terapi-terapi jauh berkurang, dan kami mulai bisa kembali hidup ‘normal’. Tentunya hidup kami akan lebih ‘kaya dan bermakna’, karena Tuhan memberi kami kepercayaan dan pengalaman ‘spesial’ membesarkan special child.
Sumber : http://puterakembara.org/rm/Sharing.shtml
Langganan:
Postingan (Atom)