1. Hubungan Chronological Age dan Mental Age
Normal MA = CA
Pintar MA > CA
MR MA < CA
2. Penguasaan Kemampuan Yang Sudah Eksis
(Sebagai Beberapa Pegangan Dalam Mendeteksi Keterbelakangan Mental)
► CA s/d 6 tahun
♦ Perkembangan motorik sudah berkembang
♦ Kemampuan sensori, persepsi, oral language, belum self care (misalnya celana
basah minta ganti), listening skillI (mendengarkan cerita dengan pemahaman).
► CA 6;00 – 12;00
♦ Sudah berkembang kemampuan 3R (reading, writing, arithmatic)
♦ Oral language – sudah mampu komunikasi secara lisan dengan baik
♦ Memory sudah dapat berfungsi dengan baik
♦ Sudah dapat melakukan associative thinking (korek = panas kompor berarti juga
panas)
♦ Sosialisasi (bisa mengatakan dan dimintai tolong, ucapkan terima kasih, sopan
santun)
♦ Family living (dapat hidup dengan anggota keluarga yang lain)
♦ Pengertian mati dan kematian
► CA 12;00 – 14;00
♦ Penguasaan seni/musik/keindahan sesuai pilihan pribadi
♦ Baca buku cerita
♦ Problem solving yang bertujuan (misalnya supaya ibu tidak marah mengubah
nilai 3 menjadi 8)
♦ Practical Science (tidak makan makanan yang dirubung lalat)
♦ Learning Strategies, menghafal dengan menempelkan catatan ditepi tempat tidur
♦ Sex education
♦ Orientasi karir
♦ Kebutuhan berekreasi
♦ Personality Development (sudah punya rahasia pribadi)
♦ Indipendent Work Habit (ada yang rapih, ada yang acak-acakan)
► CA > 15;00
♦ Kemampuan ekonomi (misal mengatur duit jajan)
♦ Tertarik Driving
♦ Mulai tahu hukum
♦ Grooming (perhatikan penampilan)
♦ Sport (bisa merupakan bagian dari memperhatikan penampilan)
♦ Dancing
♦ Social Rules (perlu KTP untuk urus surat-surat)
♦ Carrier Preparation
♦ Housekeeping
♦ Kemampuan mental dalam mengatur diri sendiri
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak Khusus (MR). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak Khusus (MR). Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 April 2010
Klasifikasi Tuna Grahita
Sesungguhnya anak tuna grahita terdiri atas beberapa klasifikasi. Setiap klasifikasi selalu diukur dengan tingkat IQ mereka, yang terbagi menjadi tiga kelas yakni: tuna grahita ringan, tuna grahita sedang dan tuna grahita berat.
» Tuna Grahita Ringan
Anak yang tergolong dalam tuna grahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididik dan dilatih. Tuna grahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tuna grahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.
» Tuna Grahita Sedang
Tidak jauh berbeda dengan anak tuna grahita ringan. Anak tuna grahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan.
» Tuna Grahita Berat
Anak tuna grahita berat disebut juga idiot. Karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. Asumsi anak tuna grahita sama dengan anak idiot tepat digunakan jika anak tuna grahita yang dimaksud tergolong dalam tuna grahita berat.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
» Tuna Grahita Ringan
Anak yang tergolong dalam tuna grahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididik dan dilatih. Tuna grahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tuna grahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.
» Tuna Grahita Sedang
Tidak jauh berbeda dengan anak tuna grahita ringan. Anak tuna grahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan.
» Tuna Grahita Berat
Anak tuna grahita berat disebut juga idiot. Karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. Asumsi anak tuna grahita sama dengan anak idiot tepat digunakan jika anak tuna grahita yang dimaksud tergolong dalam tuna grahita berat.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Tuna Grahita (Retardasi Mental)
Tuna Grahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation).
Anak Tuna Grahita memiliki fungsi intelektual tidak statis. Kelompok tertentu, termasuk beberapa dari down syndrome, memiliki kelainan fisik dibanding teman-temannya, tetapi mayoritas dari anak tuna grahita terutama yang tergolong ringan, terlihat sama seperti yang lainnya.
Adapun Tuna Grahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh dibawah rata-rata. Gejalanya tak hanya sulit berkomunikasi, tetapi juga sulit mengerjakan tugas-tugas akademik.
Sepintas, anak-anak autis dan tuna grahita memang sama-sama sulit berkomunikasi, tetapi dalam perkembangannya, pada situasi tertentu anak-anak autis bisa lebih cerdas membahasakan sesuatu. Autisme hanyalah satu dari delapan jenis kelainan gejala khusus yang menjadi sasaran layanan pendidikan khusus yang kini dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Anak Tuna Grahita memiliki fungsi intelektual tidak statis. Kelompok tertentu, termasuk beberapa dari down syndrome, memiliki kelainan fisik dibanding teman-temannya, tetapi mayoritas dari anak tuna grahita terutama yang tergolong ringan, terlihat sama seperti yang lainnya.
Adapun Tuna Grahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh dibawah rata-rata. Gejalanya tak hanya sulit berkomunikasi, tetapi juga sulit mengerjakan tugas-tugas akademik.
Sepintas, anak-anak autis dan tuna grahita memang sama-sama sulit berkomunikasi, tetapi dalam perkembangannya, pada situasi tertentu anak-anak autis bisa lebih cerdas membahasakan sesuatu. Autisme hanyalah satu dari delapan jenis kelainan gejala khusus yang menjadi sasaran layanan pendidikan khusus yang kini dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Pengobatan Down Syndrome
Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya, penderita Down Syndrome juga dapat mengalami kemunduran dari system penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya.
Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Pencegahan Down Syndrome
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down Syndrome atau mereka yang hamil diatas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki resiko melahirkan anak dengan Down Syndrome lebih tinggi. Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS pada kehamilan 10-12 minggu atau amniocentesis pada kehamilan 14-16 minggu.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Gejala Down Syndrome
Tanda-tanda yang muncul akibat Down Syndrome dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Tanda yang paling khas pada anak yang menderita Down Syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak.
Pendeerita sangat-sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relative kecil dari normal dengan bagian kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar. Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan,
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Pendeerita sangat-sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relative kecil dari normal dengan bagian kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar. Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan,
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Down Syndrome
Down Syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang mengakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini berbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Down Syndrom/sindrom down merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21) akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr. John Longdon Down. Kerena cirri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid.
Pada tahun 1970-an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah Down Syndrome dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Down Syndrom/sindrom down merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21) akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr. John Longdon Down. Kerena cirri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid.
Pada tahun 1970-an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah Down Syndrome dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.
Sumber: Buku Psikologi Pendidikan, oleh Hendro prabowo dan Ira puspitawati
Rabu, 24 Maret 2010
Perilaku Retardasi Mental
Penderita mental tidak hanya mengalami Mental Retarded, tetapi juga mengalami Behavior Retarded.
► Secara Psikososial memiliki kedudukan khusus dalam keluarga.
● Menjadi kambing hitam dari semua masalah (merupakan proses
belajar menjadi agresif atau penarikan diri (withdrawl)
● Menjadi bayi terus (penebusan rasa bersalah orangtua)
● Sebagai pet/klangenan/kesayangan (reaksi formasi dari
ketidaksukaan)
► Dari Perkembangan Moral
● Kholberg menyatakan behwa perkembangan moral didasarkan
pada moral reasoning. Perilaku adalah ekspresi dari moral reasoning seseorang. Moral reasoning berkaitan dengan perkembangan kognisi seseorang. Sehingga penderita mental retarded yang kognisinya rendah, otomatis juga akan memiliki moral reasoning yang rendah, sehingga bentuk perilakunya adalah (sesuai derajat berat-ringannya retardasi mental yang dialami) agresi, hiperaktif, withdrwal (bila terus-menerus dapat disebut autism), penyimpangan seksual.
Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma
► Secara Psikososial memiliki kedudukan khusus dalam keluarga.
● Menjadi kambing hitam dari semua masalah (merupakan proses
belajar menjadi agresif atau penarikan diri (withdrawl)
● Menjadi bayi terus (penebusan rasa bersalah orangtua)
● Sebagai pet/klangenan/kesayangan (reaksi formasi dari
ketidaksukaan)
► Dari Perkembangan Moral
● Kholberg menyatakan behwa perkembangan moral didasarkan
pada moral reasoning. Perilaku adalah ekspresi dari moral reasoning seseorang. Moral reasoning berkaitan dengan perkembangan kognisi seseorang. Sehingga penderita mental retarded yang kognisinya rendah, otomatis juga akan memiliki moral reasoning yang rendah, sehingga bentuk perilakunya adalah (sesuai derajat berat-ringannya retardasi mental yang dialami) agresi, hiperaktif, withdrwal (bila terus-menerus dapat disebut autism), penyimpangan seksual.
Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma
Faktor Penyebab Retardasi Mental
Terdapat dua faktor penyebab Retardasi Mental, yaitu: sebab biologis serta sebab psikologis dan sosial.
a. Sebab Biologis
Sebab Biologis dapat terjadi pada masa Pranatal dan masa Pranatal dengan sebab yang tidak jelas.
1. Pranatal
♦ Secara fisik akibat infeksi, detoksifikasi (keracunan nikotin, kafein, alcohol), virus rubella, obat (thalidomide dan obat-obat penenang), sipilis, herpes simplex, dan AIDS.
♦ Secara fisik juga dapat disebabkan oleh keadaan traumatik seperti hypoxia (kekurangan oksigen), atau radiasi.
♦ Kelainan metabolism/nutrisi akibat diabetes mellitus, hipertensi tak terkontrol, kurang protein yang parah, phenylalanine hydroxylase.
2. Masa Pranatal tetapi penyebabnya tidak jelas
♦ Microcephallus (memiliki kepala abnormal, yang kecil sekali), hydrocephalus (memiliki kepala yang busung dengan kelebihan cairan serebrospinal sehingga akan merusak otak), dan meningocelle (cacat/abnormal di atas hidung).
♦ Kelainan kromosom (mongoloid, prematur, post-meteur (kelebihan bulan), berat badan di bawah minimum meskipun cukup bulan, bayi dan dari ibu yang mengalami psikosis).
b. Sebab Psikologi dan Sosial
Sebab Psikologi dan Sosial antara lain disebabkan karena dibesarkan dalam lingkungan primitif (masa pekanya terlewati tanpa adanya stimulan)
→ Semakin berat hambatan fisik yang dialami seseorang, semakin besar tingkat retardasi mentalnya. Bila retardasi tersebut diakibatkan oleh lingkungan, maka taraf retardasinya tidak akan terlalu rendah.
Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma
a. Sebab Biologis
Sebab Biologis dapat terjadi pada masa Pranatal dan masa Pranatal dengan sebab yang tidak jelas.
1. Pranatal
♦ Secara fisik akibat infeksi, detoksifikasi (keracunan nikotin, kafein, alcohol), virus rubella, obat (thalidomide dan obat-obat penenang), sipilis, herpes simplex, dan AIDS.
♦ Secara fisik juga dapat disebabkan oleh keadaan traumatik seperti hypoxia (kekurangan oksigen), atau radiasi.
♦ Kelainan metabolism/nutrisi akibat diabetes mellitus, hipertensi tak terkontrol, kurang protein yang parah, phenylalanine hydroxylase.
2. Masa Pranatal tetapi penyebabnya tidak jelas
♦ Microcephallus (memiliki kepala abnormal, yang kecil sekali), hydrocephalus (memiliki kepala yang busung dengan kelebihan cairan serebrospinal sehingga akan merusak otak), dan meningocelle (cacat/abnormal di atas hidung).
♦ Kelainan kromosom (mongoloid, prematur, post-meteur (kelebihan bulan), berat badan di bawah minimum meskipun cukup bulan, bayi dan dari ibu yang mengalami psikosis).
b. Sebab Psikologi dan Sosial
Sebab Psikologi dan Sosial antara lain disebabkan karena dibesarkan dalam lingkungan primitif (masa pekanya terlewati tanpa adanya stimulan)
→ Semakin berat hambatan fisik yang dialami seseorang, semakin besar tingkat retardasi mentalnya. Bila retardasi tersebut diakibatkan oleh lingkungan, maka taraf retardasinya tidak akan terlalu rendah.
Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma
Cacat Mental/Mental Retardation/Tuna Grahita
Grahita dalam bahasa Jawa berarti piker/memahami, jadi Tuna Grahita adalah ketidakmampuan dalam berpikir. Pengertian cacat mental atau mental retardation (MR) pada mulanya memang mengacu pada aspek kognitif saja (ketidakmampuan dalam berpikir), tetapi ternyata aspek kognitif yang rendah ini juga berpengaruh dalam fungsi-fungsi psikologi yang lain sehingga definisi-definisi mental retardation mengalami perkembangan.
Barometer internasional tentang cacat mental dapat kita lihat dalam AAMD (American Association on Mental Deficiency). Di Indonesia barometer yang khusus seperti AAMD memang belum ada, tetapi ada beberapa patokan yang dapat kita gunakan dalam PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III), yaitu: Karakteristik cacat mental, Kategori keterbelakangan mental, dan Faktor penyebab retardasi mental.
Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma
Barometer internasional tentang cacat mental dapat kita lihat dalam AAMD (American Association on Mental Deficiency). Di Indonesia barometer yang khusus seperti AAMD memang belum ada, tetapi ada beberapa patokan yang dapat kita gunakan dalam PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III), yaitu: Karakteristik cacat mental, Kategori keterbelakangan mental, dan Faktor penyebab retardasi mental.
Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma
Langganan:
Postingan (Atom)