Penelitian mengenai pengaruh stimulan terhadap anak-anak hiperaktif pertama kali dilakukan pada tahun 1937, ketika DR Charles Bradley, seorang dokter dari Amerika, menggunakan Benzedrine, salah satu jenis obat stimulan untuk sistem saraf pusat. Benzedrine ini digunakan untuk menerapi anak-anak yang hiperaktif yang disertai penyakit radang otak yang disebabkan virus (viral encephalitis). Ia menemukan bahwa stimulan bisa mengurangi kebiasaan terusik pada anak-anak destraktibel dan overaktif. Ia kemudian mempublikasikan hasil penemuannya ini dan beberapa waktu kemudian dokter-dokter lainnya mulai menggunakan stimulan untuk menerapi anak-anak yang menderita apa yang pada waktu itu dikenal dengan istilah ‘hyperkinesis’ atau ‘minimal brain dysfunction’ ~ kelainan fungsi otak minimal. Pada tahun 1959 kalangan dokter mulai menggunakan methylphenidate (Ritalin) dan ini kemudian menjadi lebih popular dalam terapi untuk gangguan hiperaktif.
Semenjak penemuan Bradley pada tahun 1937 tersebut, lebih dari 100 terapi klinis dilakukan dengan menggunakan pengaruh obat stimulan seperti Ritalin dan Dexedrine terhadap anak-anak yang mengalami gangguan ADHD. Penelitian-Penelitian yang menggunakan control telah berhasil menemukan fakta bahwa sekitar 80% anak-anak yang mengalami ADHD mengalami kemajuan yang berarti setelah mendapatkan pengobatan dan perilaku hiperaktif mereka menjadi berkurang, bisa memberikan perhatian dengan lebih terfokus terhadap tugas-tugas sekolah atau aktivitas-aktivitas lainnya. Adapun apabila pemberian pengobatan dengan dosis yang berbeda dari stimulan yang diberikan pertama kali tidak membuahkan hasil yang lebih baik, data yang didapatkan para peneliti tersebut tetap mengungkap kenyataan bahwa proporsi anak-anak pengidap ADHD yang mendapatkan manfaat dari pemberian obat stimulan tersebut sebesar 85%-90%.
Sumber:Le Fanu,James.2008.Deteksi Dini Masalah-masalah Psikologi Anak(terjemahan).
Think jogjakarta:Jogjakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar