Banyak anak-anak penderita ADHD yang mengalami kesulitan dalam menjalin interaksi sosial yang baik dengan anak-anak lainnya. Mereka tidak memiliki kemampuan-kemampuan tertentu yang sebenarnya secara alamiah tumbuh dan berkembang pada anak-anak lainnya, seperti memberikan salam atau menyapa bila bertemu dengan orang lain, berbicara dengan luwes dan nyaman, tersenyum dan mengatakan hal-hal positif kepada orang lain. Para peneliti mendapatkan fakta bahwa kemampuan bersosialisasi bukan hanya merupakan permasalahan yang terjadi antara anak-anak penderita ADHD dengan teman-teman mereka, tetapi juga dengan orang tua dan guru mereka.
Sebagian besar anak-anak belajar dari pengalaman yang mereka dapatkan. Ketika mereka diperlakukan secara sopan dan baik, mereka akan memberikan respon yang sama menyenangkannya dengan perlakuan yang diberikan kepada mereka tersebut. Mereka belajar untuk menjadi sosok yang bersahabat karena mereka senang mendapatkan banyak sahabat, dan belajar untuk bersosialisasi karna pada umumnya mereka ingin menjadi bagian dari sebuah kelompok atau komunitas, mereka tidak senang dianggap sebagai orang asing. Akan tetapi anak-anak yang mengalami ADHD tidak memiliki kemampuan seperti ini, mereka tidak mampu memikirkan konsekuensi-konsekuensi atas perilaku yang mereka perbuat. Mereka biasanya mengatakan apa yang pertama kali terlintas dalam benak mereka ketika bertemu dengan seseorang, dan apa yang dikatakannya tersebut bukanlah pujian kepada orang yang bertemu dengannya. Mereka mengucapkan kata-kata apa saja tanpa bisa mengontrolnya, sehingga terkadang bisa menyinggung perasaan orang yang bertemu dengannya tersebut.
Ketika sedang melakukan percakapan mereka mudah terganggu oleh apa saja yang ada disekelilingnya, tidak bisa konsentrasi dan terkesan tidak tertarik pada pembicaraan yang sedang mereka ikuti, keadaan seperti ini membuat orang yang sedang berbicara dengan mereka merasa bahwa dirinya bodoh dan kurang dihargai oleh anak-anak penderita ADHD. Mereka bisa dengan tiba-tiba memotong pembicaraan orang lain, atau berhenti berbicara secara mendadak ketika ada obyek lain yang ia lihat, yang mana suasana seperti ini membuat orang yang sedang bercakap-cakap dengannya merasa tertolak. Anak-Anak non-ADHD tidak terlalu bisa bersabar dengan jenis perilaku seperti ini, dan seorang anak yang tidak memiliki kemampuan bersosialisasi bisa dengan mudah terisolir bahkan terusir dari komunitas dimana ia berada, anak-anak seperti ini hanya bisa bersosialisasi dengan sesama anak yang mengalami problem dalam bersosialisasi. Rasa amarah yang disebabkan oleh perasaan ditinggal oleh orang-orang di sekelilingnya ini yang kemudian membuat mereka berperilaku buruk. Hal ini mereka lakukan dengan harapan agar bisa mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekelilingnya.
Beberapa di antara mereka ada yang ceria dan bertingkah lucu dan sering membuat anak-anak lainnya tertawa karenanya. Kelas-kelas yang di dalamnya ada anak-anak seperti ini menjadi mirip tempat lawakan, penderita ADHD seperti ini membuat setiap orang tertawa. Tetapi penderita ADHD seperti ini bisa terus-menerus.Berada dalam masalah karena tertawaan teman-teman kelas mereka bisa membuat anak ini bermasalah dengan pelajarannya disekolah.
Sumber:Le Fanu,James.2008.Deteksi Dini Masalah-masalah Psikologi Anak(terjemahan).
Think jogjakarta:Jogjakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar