Rabu, 24 Maret 2010

Pengemudi Pemarah dan Risiko Kecelakaan di Jalan Raya

Apakah Anda tergolong pemarah? Bila demikian berhati-hatilah jika Anda sedang mengemudikan kendaraan di jalan raya. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh beberapa ahli di Amerika menemukan bahwa seorang pengemudi yang tergolong pemarah lebih sering mengalami kecelakaan di jalan dibandingkan dengan pengemudi yang tidak pemarah. Menurut penelitian yang dimuat dalam Journal of Counseling Psychology, Vol.47, No, 1 tersebut, pengemudi yang tergolong pemarah ini lebih sering merasa cemas dan sulit mengendalikan amarah mereka sehingga sering menunjukkan perilaku agresif dan tidak jarang beresiko tinggi dan membahayakan bagi diri mereka sendiri dan orang lain

Sumber: E-Psikologi.com

Pembantu Otak!

Kopi yang baru saja dirajang adalah bensin utama bagi otak. Kafein terbukti menghambat proses penuaan dan membantu daya ingat otak untuk ingatan jangka pendek. Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa mereka yang mengkonsumsi secangkir kopi akan lebih mudah memusatkan perhatian dan lebih tanggap saat menyelesaikan masalah.

Sumber: Majalah PARENTING INDONESIA, oleh buku Eat This Not That

Tahukah Anda?????

Kopi adalah antioksidan nomor satu yang dapat menghalau radikal bebas penyebab kanker.

Refrensi: Majalah PARENTING INDONESIA, oleh University of Scranton

Perilaku Retardasi Mental

Penderita mental tidak hanya mengalami Mental Retarded, tetapi juga mengalami Behavior Retarded.
► Secara Psikososial memiliki kedudukan khusus dalam keluarga.
● Menjadi kambing hitam dari semua masalah (merupakan proses
belajar menjadi agresif atau penarikan diri (withdrawl)
● Menjadi bayi terus (penebusan rasa bersalah orangtua)
● Sebagai pet/klangenan/kesayangan (reaksi formasi dari
ketidaksukaan)
► Dari Perkembangan Moral
● Kholberg menyatakan behwa perkembangan moral didasarkan
pada moral reasoning. Perilaku adalah ekspresi dari moral reasoning seseorang. Moral reasoning berkaitan dengan perkembangan kognisi seseorang. Sehingga penderita mental retarded yang kognisinya rendah, otomatis juga akan memiliki moral reasoning yang rendah, sehingga bentuk perilakunya adalah (sesuai derajat berat-ringannya retardasi mental yang dialami) agresi, hiperaktif, withdrwal (bila terus-menerus dapat disebut autism), penyimpangan seksual.

Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma

Faktor Penyebab Retardasi Mental

Terdapat dua faktor penyebab Retardasi Mental, yaitu: sebab biologis serta sebab psikologis dan sosial.
a. Sebab Biologis
Sebab Biologis dapat terjadi pada masa Pranatal dan masa Pranatal dengan sebab yang tidak jelas.
1. Pranatal
♦ Secara fisik akibat infeksi, detoksifikasi (keracunan nikotin, kafein, alcohol), virus rubella, obat (thalidomide dan obat-obat penenang), sipilis, herpes simplex, dan AIDS.
♦ Secara fisik juga dapat disebabkan oleh keadaan traumatik seperti hypoxia (kekurangan oksigen), atau radiasi.
♦ Kelainan metabolism/nutrisi akibat diabetes mellitus, hipertensi tak terkontrol, kurang protein yang parah, phenylalanine hydroxylase.
2. Masa Pranatal tetapi penyebabnya tidak jelas
♦ Microcephallus (memiliki kepala abnormal, yang kecil sekali), hydrocephalus (memiliki kepala yang busung dengan kelebihan cairan serebrospinal sehingga akan merusak otak), dan meningocelle (cacat/abnormal di atas hidung).
♦ Kelainan kromosom (mongoloid, prematur, post-meteur (kelebihan bulan), berat badan di bawah minimum meskipun cukup bulan, bayi dan dari ibu yang mengalami psikosis).
b. Sebab Psikologi dan Sosial
Sebab Psikologi dan Sosial antara lain disebabkan karena dibesarkan dalam lingkungan primitif (masa pekanya terlewati tanpa adanya stimulan)

→ Semakin berat hambatan fisik yang dialami seseorang, semakin besar tingkat retardasi mentalnya. Bila retardasi tersebut diakibatkan oleh lingkungan, maka taraf retardasinya tidak akan terlalu rendah.

Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma

Cacat Mental/Mental Retardation/Tuna Grahita

Grahita dalam bahasa Jawa berarti piker/memahami, jadi Tuna Grahita adalah ketidakmampuan dalam berpikir. Pengertian cacat mental atau mental retardation (MR) pada mulanya memang mengacu pada aspek kognitif saja (ketidakmampuan dalam berpikir), tetapi ternyata aspek kognitif yang rendah ini juga berpengaruh dalam fungsi-fungsi psikologi yang lain sehingga definisi-definisi mental retardation mengalami perkembangan.
Barometer internasional tentang cacat mental dapat kita lihat dalam AAMD (American Association on Mental Deficiency). Di Indonesia barometer yang khusus seperti AAMD memang belum ada, tetapi ada beberapa patokan yang dapat kita gunakan dalam PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III), yaitu: Karakteristik cacat mental, Kategori keterbelakangan mental, dan Faktor penyebab retardasi mental.

Sumber: Prabowo,hendro.[et al]. Psikologi pendidikan.Jakarta:Penerbit Gunadarma

Menghindari Tatapan

Minim kontak mata pada anak memang merupakan salah satu cirri gangguan autistic. Namun pada bayi lima bulan, kita tidak bisa langsung menentukan apakah hal ini merupakan gejala autistic atau bukan. Secara umum ada tiga ciri utama dari gangguan autistic:
1. Masalah dalam interaksi soaial.
2. Masalah komunikasi muncul dalam bentuk keterlambatan bicara atau tidak bisa bicara.
3. Anak autis biasanya memiliki obsesi terhadap suatu benda atau hal tertentu dan punya ritual yang spesifik.
Sebagian besar anak autis memiliki masalah sensorik yang menyebabkan mereka amat sensitif terhadap rangsang dari luar. Mereka tidak menyukai suara-suara yang ramai, cenderung tidak suka disentuh dan dipeluk, dan lebih suka menarik diri. Biasanya perkembangan motorik kasar dan halus juga terganggu. Penanganan yang tepat sejak usia dini dan intensif, akan membantu anak berkembang optimal.
Sumber: Majalah AYAHBUNDA, oleh Dra. Adriana S. Ginanjar, MS